Snippet

Pengertian & Tingkatan Taubat Bag. Ke 1

Taubat

Karena pada dasarnya manusia harus bersama Allah SWT dan selalu berhubungan dengan-Nya, dan tidak menjauhi-Nya. Manusia tidak dapat membebaskan diri dari Allah SWT untuk memikirkan kehidupan fisiknya saja, juga tidak dapat membebaskan dirinya dari Allah SWT karena memikirkan kebutuhan hidup ruhaninya saja. Bahkan kebutuhannya kepada Allah SWT di akhirat akan lebih besar dari kebutuhannya di dunia. Karena kehidupan dan kebutuhan fisik itu secara bersamaan juga dilakukan oleh binatang yang tidak dapat berpikir, sementara kebutuhnan ruhani adalah sisi yang menjadi ciri pembeda manusia dari hewan dan binatang.

Allah SWT telah menciptakan manusia dari dua unsur. Di dalam tubuhnya terdapat unsur tanah, juga unsur ruh. Inilah yang menjadikannya layak dijadikan objek sujud oleh malaikat sebagai penghormatan dan pemuliaan kedudukannya. Allah SWT berfirman:

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." QS. Shaad: 71-72..

Allah SWT tidak memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam kecuali setelah Allah SWT memperbagus bentuknya dan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya.

Ketika manusia ta'at kepada Rabbnya berarti tiupan ruh itu mengalahkan sisi tanahnya. Atau dengan kata lain, sisi ruhani mengalahkan sisi materi. Dan sisi Rabbani mengalahkan sisi tanah yang rendah. Maka manusia meningkat dan mendekat kepada Rabbnya, sesuai dengan usahanya untuk meningkatkan sisi ruhaninya ini.

Ketika manusia berbuat maksiat terhadap Rabbnya, maka posisi itu terbalik; sisi tanah mengalahkan sisi ruh, dan sisi materi yang rendah mengalahkan sisi Rabbani yang tinggi. Maka manusia merendah dan menjadi lebih hina, serta menjauh dari Allah SWT sesuai dengan seberapa jauh dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan.

Kemudian taubat memberikan kesempatan kepadanya untuk mencapai apa yang tidak ia dapatkan, serta meluruskan kembali perjalanan hidupnya. Maka manusia itupun kembali menaik setelah kejatuhannya, dan mendekat kepada Rabbnya setelah ia menjauhi-Nya, serta kembali kepada-Nya setelah memberontak dari-Nya.

Taubat Nasuha

Taubat yang diperintahkan agar dilakukan oleh kaum mu'minin adalah taubat nasuha (yang semurni-murninya) seperti disebut dalam Al Quran:

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya." QS. at-Tahrim: 8

Kemudian apa makna taubat nasuha itu.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya: "artinya adalah, taubat yang sebenarnya dan sepenuh hati, akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya."

Sedangkan nasuha adalah redaksi hiperbolik dari kata nashiih. Seperti kata syakuur dan shabuur, sebagai bentuk hiperbolik dari syakir dan shabir. Dan terma "n-sh-h" dalam bahasa Arab bermakna: bersih. Dikatakan dalam bahasa Arab: "nashaha al 'asal" jika madu itu murni, tidak mengandung campuran. Sedangkan kesungguhan dalam bertaubat adalah seperti kesungguhan dalam beribadah. Dan dalam bermusyawarah, an-nush itu bermakna: membersihkannya dari penipuan, kekurangan dan kerusakan, dan menjaganya dalam kondisi yang paling sempurna. An nush-h (asli) adalah lawan kata al-gisysy-(palsu).

Pendapat kalangan salaf berbeda-beda dalam mendefinisikan hakikat taubat nasuha itu. Hingga Imam Al Qurthubi dalam tafsinrya menyebut ada dua puluh tiga pendapat. (Lihat: Tafsir al Qurthubi ayat ke delapan dari surah at Tahrim). Namun sebenarnya pengertian aslinya hanyalah satu, tetapi masing-masing orang mengungkapkan kondisi masing-masing, atau juga dengan melihat suatu unsur atau lainnya.

Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim menyebutkan dari Umar, Ibnu Mas'ud serta Ubay bin Ka'b r.a. bahwa pengertian taubat nasuha: adalah seseorang yang bertaubat dari dosanya dan ia tidak melakukan dosa itu lagi, seperti susu tidak kembali ke payudara hewan. Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dengan marfu': taubat dari dosa adalah: ia bertaubat darinya (suatu dosa itu) kemudian ia tidak mengulanginya lagi." Sanadnya adalah dha'if. Dan mauquf lebih tepat, seperti dikatakan oleh Ibnu Katsir.

Hasan Al Bashri berkata: taubat adalah jika seorang hamba menyesal akan perbuatannya pada masa lalu, serta berjanji untuk tidak mengulanginya.

Al Kulabi berkata: Yaitu agar meminta ampunan dengan lidah, menyesal dengan hatinya, serta menjaga tubuhnya untuk tidak melakukannnya lagi.

Sa'id bin Musayyab berkata: taubat nasuha adalah: agar engkau menasihati diri kalian sendiri.....

Kelompok pertama menjadikan kata nasuha itu dengan makna maf'ul (objek) yaitu orang yang taubat itu bersih dan tidak tercemari kotoran. Maknanya adalah, ia dibersihkan, seperti kata raquubah dan haluubah yang berarti dikendarai dan diperah. Atau juga dengan makna fa'il (subjek), yang bermakna: yang menasihati, seperti khaalisah dan shaadiqah.

Muhammad bin Ka'b al Qurazhi berkata: taubat itu diungkapkan oleh empat hal: beristighfar dengan lidah, melepaskannya dari tubuh, berjanji dalam hati untuk tidak mengerjakannya kembali, serta meninggalkan rekan-rekan yang buruk. (Madaarij Saalikiin : 1/ 309, 310. Cetakan As Sunnah Al Muhammadiyyah, dengan tahqiq Syaikh Muhammad Hamid al Faqi. Dan tafsir Ibnu Katsir : 4/ 391, 392).

Sekadar Bicara Taubat dengan Lidah Bukan Taubat

Taubat tidak sekadar mengucapkan dengan lidah, seperti dipahami oleh kalangan awam. Ketika salah seorang dari mereka datang kepada seorang tokoh agama ia berkata kepadanya: "Pak kiyai, berilah taubat kepada saya". Kiyai itu akan menjawab: "ikutilah perkataanku ini!": "aku taubat kepada Allah SWT, aku kembali kepada-Nya, aku menyesali dosa yang telah aku lakukan, dan aku berjanji untuk tidak melakukan maksiat lagi selamanya, serta aku membebaskan diri dari seluruh agama selain agama Islam".

Dan ketika ia telah mengikuti ucapan kiyai itu dan pulang, ia menyangka bahwa ia telah selesai melakukan taubat!.

Ini adalah bentuk kebodohan dua pihak sekaligus: kebodohan orang awam itu, serta sang kiyai juga. Karena taubat bukan sekadar ucapan dengan lidah saja, karena jika taubat hanya sekadar berbuat seperti itu, alangkah mudahnya taubat itu.

Taubat adalah perkara yang lebih besar dari itu, dan juga lebih dalam dan lebih sulit. Ungkapan lisan itu dituntut setelah ia mewujudkannya dalam tindakannya. Untuk kemudian ia mengakui dosanya dan meminta ampunan kepada Allah SWT. Sedangkan sekadar istighfar atau mengungkapkan taubat dengan lisan --tanpa janji dalam hati-- itu adalah taubat para pendusta, seperti dikatakan oleh Dzun Nun al Mishri. Itulah yang dikatakan oleh Sayyidah Rabi'ah al 'Adawiyah: "istighfar kita membutuhkan istighfar lagi!" Hingga sebagian mereka ada yang berkata: "aku beristighfar kepada Allah SWT dari ucapanku: 'aku beristighfar kepada Allah SWT'". Atau taubat yang hanya dengan lisan, tidak disertai dengan penyesalan dalam hati!

Sementara hakikat taubat adalah perbuatan akal, hati dan tubuh sekaligus. Dimulai dengan perbuatan akal, diikuti oleh perbuatan hati, dan menghasilkan perbuatan tubuh. Oleh karena itu, al Hasan berkata: "ia adalah penyesalan dengan hati, istighfar dengan lisan, meninggalkan perbuatan dosa dengan tubuh, dan berjanji untuk tidak akan mengerjakan perbuatan dosa itu lagi."

Taubat Seperti Dijelaskan oleh Al Ghazali

Taubat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya "Ihya ulumuddin" adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiga amal.

Ia berkata: yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga. Berlangsung sesuai dengan hukum (ketentuan) Allah SWT yang berlangsung dalam kerajaan dan malakut-Nya.

Ia berkata: "Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. Karena hati, ketika ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu. Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan. Jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang. Tindakan yang ia lakukan saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya.

Yang pertama adalah ilmu. Dialah pangkal pertama seluruh kebaikan ini. Yang aku maksudkan dengan ilmu ini adalah keimanan dan keyakinan. Karena iman bermakna pembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan. Sedangkan yakin adalah penegasan pembenaran ini, tidak meragukannya serta memenuhi hatinya. Maka cahaya iman dalam hati ini ketika bersinar akan membuahkan api penyesalan, sehingga hati merasakan kepedihan. Karena dengan cahaya iman itu ia dapat melihat bahwa saat ini, karena dosanya itu, ia terhalang dari yang dia cintai. Seperti orang yang diterangi cahaya matahari, ketika ia berada dalam kegelapan, maka cahaya itu menghilangkan penghalang penglihatannya sehingga ia dapat melihat yang dia cintai. Dan ketika ia menyadari ia hampir binasa, maka cahaya cinta dalam hatinya bergejolak, dan api ini membangkitkan kekuatannya untuk menyelamatkan dirinya serta mengejar yang dia cintai itu.

Ilmu dan penyesalan, serta tekad untuk meninggalkan perbuatan dosa saat ini dan masa akan datang, serta berusaha menutupi perbuatan masa lalu mempunyai tiga makna yang berkaitan dengan pencapaiannya itu. Secara keseluruhan dinamakan taubat. Banyak pula taubat itu disebut dengan makna penyesalan saja. Ilmu akan dosa itu dijadikan sebagai permulaan, sedangkan meninggalkan perbuatan dosa itu sebagai buah dan konsekwensi dari ilmu itu. Dari itu dapat dipahami sabda Rasulullah Saw : " Penyesalan adalah taubat" (Hafizh al 'Iraqi dalam takhrij hadits-hadits Ihya Ulumuddin berkata: hadits ini ditakhrijkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim. Serta ia mensahihkan sanadnya dari hadits Ibnu Mas'ud. Dan diriwayakan pula oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim dari hadits Anas r.a. dan ia berkata: hadits ini sahih atas syarat Bukhari dan Muslim), karena penyesalan itu dapat terjadi dari ilmu yang mewajibkan serta membuahkan penyesalan itu, dan tekad untuk meninggalkan dosa sebagai konsekwensinya. Maka penyesalan itu dipelihara dengan dua cabangnya, yaitu buahnya dan apa yang membuahkannya."

IHYA' ULUMIDDIN

Ketahuilah kiranya, bahwa harap itu termasuk dalam jumlah pangkat-pangkat orang salik (orang yang berjalan kepada Allah) dan hal keadaan orang-orang yang menuntut jalan Allah.

Sesungguhnya sifat itu dinamakan: tingkat (maqam), ialah: apabila ia tetap dan berketetapan di situ. Dan sesungguhnya dinamakan: hal-keadaan, apabila dia itu mendatang, yang segera hilang. Dan sebagaimana kuning itu terbagi kepada: yang tetap, seperti: kuning emas. Dan kepada yang segera hilang. seperti: kuning (pucat) ketakutan. Dan kepada apa. yang di antara keduanya. seperti: kuning orang sakit.

Maka seperti demikian pula. sifat-sifat hati itu terbagi kepada: bahagian-bahagian ini. Maka yang tidak tetap. dinamakan: hal-keadaan. Karena dia itu berpaling dengan dekat. Dan ini berlaku pada setiap sifat, daripada sifat-sifat hati.

Maksud kami sekarang, ialah: hakikat harap. Maka harap juga akan sempuma, dari: hal-keadaan, ilmu dan amal.  Maka ilmu itu sebab yang membuahkan hal-keadaan. Dan hal-keadaan itu menghendaki amal Dan adalah harap itu suatu nama dari jumlah yang tiga tadi.

Penjelasannya. ialah: bahwa setiap apa yang menemukan anda. dari: yang tidak disukai dan yang disukai, maka terbagi kepada: wujudnya pada hal-keadaan yang sekarang, kepada wujudnya pada masa yang lalu dan kepada yang ditunggu pada masa mendatang.

Maka apabila terguris di hati anda, suatu wujud pada masa yang lalu, niscaya dinamakan: ingatan dan sebutan. Dan jikalau yang terguris di hati anda itu, terdapat sekarang, niscaya dinamakan: perasaan, rasa dan tahu. Dan sesungguhnya dinamakan: perasaan, karena dia itu suatu keadaan yang anda dapati dalam jiwa anda. Dan jikalau terguris di hati and a akan adanya sesuatu pada masa mendatang dan mengeraskan yang demikian pada hati anda, niscaya dinamakan: tungguan dan kemungkinan terjadi. Maka jikalau yang ditunggu itu tidak disukai, niscaya timbullah dalam hati kepedihan, yang dinamakan: takut dan kasihan. Dan kalau yang ditunggu itu disukai, yang diperoleh dari tungguannya, kesangkutan hati kepadanya dan kegurisan adanya di hati, kelazatan dalam hati dan kesenangan, niscaya dinamakan kesenangan itu: harap. Maka harap, ialah: kesenangan hati untuk menunggu apa yang disukainya.

Akan tetapi, yang disukai dan yang diharapkan itu, tak boleh tidak, bahwa ada sebab baginya. Kalau tungguan itu karena hasil kebanyakan sebab-sebabnya, maka nama harap padanya itu benar. Dan kalau ada yang demikian itu tungguan serta rusak dan kacau-balau sebab-sebabnya, maka nama tipuan dan dungu lebih tepat padanya, daripada nama: harap. Dan jikalau tidaklah sebab-sebab itu diketahui adanya dan tidak diketahui tidak adanya, maka nama: angan-angan lebih tepat atas tungguannya. Karena itu adalah tungguan, tanpa ada sebab.

Dan atas setiap hal-keadaan, maka tidaklah dipakai secara mutlak: nama harap dan takut. selain atas apa yang diragukan padanya. Adapun apa yang diyakinkan. maka tidak dipakai. Karena tidaklah dikatakan: aku harap terhit matahari pada waktu terhit. Dan aku takut akan terhenamnya waktu terbenam. Karena yang demikian sudah diyakini.  Benar. dikatakan: aku mengharap turun hujan dan aku takut terputusnya hujan.

Sesungguhnya diketahui oleh orang-orang yang mempunyai hati nurani,  hahwa dunia itu kebun akhirat. Dan hati itu seperti: bumi. Dan iman itu seperti bibit di dalamnya. Dan tha'at itu berlaku sebagai berlakunya pembalik-balikan tanah dan pembersihannya. Dan sebagai berlakunya penggalian sungai-sungai dan mengalirkan air kepadanya. Dan hati yang macam babi hutan dengan dunia, yang karam di dalamnya itu, seperti tanah yang tidak baik. yang tidak tumbuh bibit padanya. Dan hari kiamat itu, hari panen. Dan seseorang tidak panen, selain apa yang ditanamnya. Dan tiada tumbuh yang ditanam, selain dari bibit iman. Dan sedikitlah manfaatnya iman, serta kekejian hati dan keburukan akhlaknya.

Sebagaimana bibit tidak tumbuh pada tanah yang tidak haik, maka sayogialah bahwa dikiaskan harapan hamba akan ampunan dengan harapan orang yang mempunyai tanaman. Maka setiap orang yang mencari tanah yang baik dan menaburkan padanya bibit yang baik, yang tidak busuk dan tidak kena bubuk. kemudian diberinya pertolongan dengan apa yang diperlukan, yaitu: menyirami air pada waktu-waktunya, kemudian membersihkan duri dari tanah dan rumput dan setiap apa yang mencegah tumbuhnya bibit atau merusakkannya, kemudian ia duduk menunggu dari kurnia Allah Ta'ala, menolak segala yang membinasakan dan bahaya-bahaya yang merusak, sehingga sempurnalah tanaman dan sampai kesudahannya, niscaya tungguan itu dinamakan: harap. Dan kalau di• taburkan bibit pada tanah keras yang tidak haik. yang tinggi, yang tidak disirami air kepadanya dan tidak diusahakan sekali-kali mengurus bibit itu. kemudian menunggu panennya, niscaya dinamakan tungguan itu: bodoh dan tertipu. Bukan: harap. Dan kalau ditaburkan bibit pada tanah yang baik, tetapi tidak ada air dan menunggu air hujan, di mana hujan itu tidak biasa terjadi dan juga bukan tidak, niscaya tungguan itu dinamakan: angan-angan. Bukan: harap.

Jadi, nama harap sesungguhnya dibenarkan kepada menunggu yang di- sukai, yang disediakan semua sebab-sebabnya yang masuk di bawah usaha hamba. Dan tidak tinggal, selain apa yang tidak masuk di bawah usaha hamba itu. Dan itulah kurnia Allah Ta'ala, dengan menyingkirkan segala yang memotong dan yang merusak.

Jadi, maka hamba apabila telah menaburkan bibit iman dan menyiramnya dengan air tha' at dan membersihkan hati dari duri akhlak yang buruk dan menunggu dari kumia Allah Ta'ala, akan penetapannya di atas yang demikian, sampai mati dan bagus kesudahan (husnul-khatimah) yang membawa kepada ampunan, niscaya adalah tungguannya itu: harap yang hakiki, yang terpuji, : yang menggerakkan kepada kerajinan dan tegak berdiri menurut yang dikehendaki oleh sebab-sebab iman, pada menyempurnakan sebab-sebab ampunan, sampai kepada mati.

Dan jikalau terputus dari bibit iman, penyelenggaraannya dengan air tha'at atau membiarkan hati terisi dengan akhlak-akhlak yang hina dan ia berkecimpung mencari kesenangan duniawi, kemudian ia menunggu ampunan, maka tungguannya itu: hodoh dan tertipu.

Nahi s.a.w. bersabda:-

clip_image002

(AI-ahmaqu man - atba- 'a nafsahu hawaahaa wa tamannaa - 'alal-Iaahiljannah).

Artinya: "Orang bodoh, ialah orang yang mengikutkan dirinya dengan hawa-nafsunya dan ia berangan-angan kepada Allah, akan syurga". (I).

Allah Ta'ala berfirman:-

clip_image004

(Fa khalafa min ha'dihim khalfun adlaa- 'ush-shalaata wat-taba-'usy-sya- hawaati. fa saufa yalqauna ghayyan).

Artinya: "Maka digantikan mereka oleh satu angkatan, yang meninggalkan shalat dan memperturutkan keinginan nafsu. Sebah itu, mereka akan menemui kebinasaan". S. Maryam. ayat 51).

Allah Ta'ala berfirman

clip_image006

(Fa khalafa min ba'-dihim khalfun waritsul-kitaaba ya'-khudzuuna -'aradla haadzal-adnaa wa yaquuluuna sa-yugh-faru lanaa).

Artinya: "Sesudah itu datang angkatan baru (yang jahat) menggantikan mereka. Mereka. mempusakai Kitab, mengambil harta benda kehidupan dunia ini saja (dengan cara yang tidak halal). Kata mereka: "Nanti (kesalahan) kami akan diampuni". S. AI-A'raaf, ayat 169.

Allah Ta'ala mencela yang empunya kebun. Ketika ia masuk ke kebunnya, dia berkata: "Aku tidak mengira, bahwa (kebun) ini akan pernah binasa. Dan aku tidak mengira, bahwa sa'at itu akan datang dan kalau kiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, tentu aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari ini." (2).

Keterangan:

(I) Dirawikan Ahmad. At-Tirmidzi. ibnu Abid-Dun-ya dan AI-Hakim dari Syaddad bin Aus.

(2) Apa yang tersebut sesuai dengan ayat 35 dan 36 dari; S. AI-Kahf.

Jadi, hamba yang bersungguh-sungguh pada tha'at, yang menjauhkan diri dari maksiat itu benar-benar ia menunggu kurnia AIIah akan kesempumaan nikmat. Dan tidaklah kesempumaan nikmat itu, selain dengan masuk syurga.

Adapun orang yang berbuat maksiat, maka apabila ia bertaubat dan mengerjakan kemhali apa yang telah telanjur daripada keteledoran, maka sebenarnya, bahwa dia itu mengharap penerimaan taubat.

Adapun penerimaan taubat. apabila ia benci kepada perbuatan maksiat, yang menjahatkannya oleh kejahatan dan menyukakannya oleh kebaikan dan ia mencela dah mencaci dirinya dan ia merindui taubat dan mengingininya. maka benarlah ia mengharap dari Allah, akan taufiqNYA kepada taubat. Karena kebenciannya kepada maksiat dan keinginannya kepada taubat itu berlaku, pada tempat berlakunya sebab yang kadang-kadang membawa kepada taubat. Dan sesungguhnya harap itu, sesudah kuatnya sebab-sehab. Dan karena itulah.

Allah Ta'ala berfirman:-

clip_image008

( innal-Iadziina-aamanuu wal-Iadziina haajaruu wa jaahaduu fii sabiilil-Iaahi, ulaa-ika yarjuuna rahmatal-Iaahi).

etinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah (berpindah dari negerinya) dan bekerja keras di jalan Allah, mereka ilu mengharapkan rahmat Allah". A. AI-Baqarah, ayat 218.

Artinya. bahwa mereka itu berhak mengharap rahmat Allah. Dan tidak dikehendaki dengan demikian itu pengkhusus-an adanya harap. Karena selain dari mereka itu juga kadang-kadang mengharap. Akan tetapi, dikhusus-kan kepada mereka akan berhaknya harap.

Adapun orang yang menjerumuskan dirinya pada apa yang tiada disukai oleh Allah Ta'ala dan tiada mencela dirinya at as yang demikian dan tidak bercita-cita kepada taubat dan kembali, maka harapannya akan ampunan itu bodoh. Seperti harapannya orang yang menaburkan bibit pada bumi yang tidak baik dan bercita-cita bahwa tidak menguruskannya dengan menyiramkan air dan membersihkan.

Yahya bin Ma'adz berkata: "Termasuk tertipunya diri yang terbesar padaku. ialah: berkepanjangan berbuat dosa, serta mengharapkan kemaafan, tanpa penyesalan. Mengharapkan kedekatan dengan Allah Ta'ala, tanpa tha'at. Menunggu tanaman syurga dengan bibit neraka. Mencari negeri orang-orang yang taa'at, dengan perbuatan-perbuatan maksiat. Menunggu balasan tanpa amal. Dan bercita-cita kepada Allah 'Azza wa Jalla, serta keteledoran" .

Engkau mengharap kelepasan

dan tidak menjalani jalan-jalannya. Sesungguhnya kapal itu,

tidak berlayar di atas daratan.

Maka apabila anda mengetahui akan hakikat harap dan tempat sangkaan"ya, maka sesungguhnya anda mengetahui, bahwa hakikat harap itu ada- lah sualU keadaan, yang dihasilkan oleh ilmu, dengan berlakunya kebanyakan sebab-sebab. Dan hal-keadaan ini membuahkan kesungguhan menegakkan sisa sebab-sebab menurut kemungkinan. Sesungguhnya orang yang membaguskan bibitnya, baik tanahnya, banyak aimya, benar harapannya, maka senantiasalah ia dibawa oleh benarnya harapan, kepada mencari tanah, mengusahakannya dan membuang setiap rumput yang tumbuh padanya. Maka tidaklah luntur sekali-kali dari usahanya. sampai kepada waktu mengetam. Dan ini adalah karena harap itu berlawanan dengan putus-asa. Dan putus-asa itu mencegah dari usaha. Maka siapa yang mengetahui, bahwa tanah itu tidak baik, air itu sangat sedikit dan bibit itu tidak tumbuh, niscaya ia akan tinggalkan  sudah pasti mencari tanah dan berpayah-payah pada mengusahakannya.

Harap itu terpuji, karena ia menggerakkan kepada perbuatan. Dan putus asa itu tercela dan itu adalah lawannya harap. Karena putus asa itu memalingkan dari amal. Dan takut itu tidaklah lawan hamp. Akan tetapi kawannya, sebagaimana akan datang penjelasannya. Bahkan takut itu penggerak yang lain, dengan jalan ketakutan. Sebagaimana harap itu penggerak dengan jalan kegemaran.

Jadi, keadaan harap itu mengwarisi panjangnya bersungguh-sungguh (mujahadah) dengan amal-perbuatan dan rajin kepada tha'at, bagaimana pun berbalik-baliknya hal-ehwal.

Dan di antara kesan-kesan dari harap itu. ialah enaknya terus-menerus menghadapkan hati kepada Allah Ta'ala, merasa kenikmatan dengan bermunajah dengan DIA dan berlemah-Iembut pada berwajah Manis kepadaNYA. Sesungguhnya segala hal-ehwal ini tak boleh tidak. Dan bahwa terang atas setiap orang yang mengharap akan seseorang dari raja-raja atau seseorang dari orang-orang biasa. Maka bagaimana tidak terang yang demikian pada hak Allah Ta'ala? Maka jikalau tidak terang, maka hendaklah ia mengambil dalil dengan yang demikian, atas tidak diperolehnya tingkat harap (maqam ar-raja'). Dan turun dalam lembah tertipu dan angan-angan.

Maka inilah dia itu penjelasan bagi hal harap itu. Dan mengapa ia dihasilkan oleh ilmu. Dan mengapa ia menerima hasil dari amal. Dan menunjukkan atas dihasilkannya amal-amal ini, oleh hadits yang dirawikan ZaidulKhail. Karena ia berkata kepada Rasulullah s.a.w.: "Aku datang untuk bertanya kepada engkau, dari alamat Allah, pada orang yang menghendakinya. Dan alamatNYA pada orang yang tiada menghendakinya".

Maka Nabi s.a.w. menjawab: "Bagaimana keadaan engkau?". Zaidul-Khail menjawab: "Keadaanku, ialah mencintai kebajikan dan orang yang mengerjakan kebajikan. Apabila aku sanggup atas sesuatu daripadanya, niscaya aku bersegera mengerjakannya. Dan aku yakin dengan pahalanya. Dan apabila luput bagiku akan sesuatu daripadanya, niscaya menggundahkan aku dan aku rindu kepadanya".

Maka Nabi s.a.w. bersabda:-

clip_image010

(Haadzihi -'alaamatul-laahi fii-man yuriidu, wa lau araadaka lil-ukhraa, hayya-aka lahaa, tsumma laa yubaalii fii ayyi-audiyatihaa halakta).

Artinya: "Itulah alamat Allah pada: siapa yang dikehendakiNYA. Jikalau IA menghendaki engkau bagi yang lain, niscaya disiapkanNYA engkau baginya. Kemudian IA tiada menghiraukan pada lembah-lembahnya yang mana engkau binasa". (1).

Maka sesungguhnya Nabi s.a.w. telah menyebutkan alamat (tanda) orang yang dimaksudkan dengan dia kebajikan. Maka barangsiapa mengharap bahwa dia dimaksudkan dengan kebajikan dan bukan alamat-alamat ini, maka dia itu tertipu.

BAHAGIAN KE DUA: dari Kitab: tentang takut.

Pada bahagian ini: penjelasan hakikat takut, penjelasan tingkat-tingkatnya, penjelasan berbagai macam ketakutan, penjelasan keutamaan takut, penjelasan yang terutama dari takut dan harap, penjelasan obat takut, penjelasan erti buruk kesudahan (su-ul-khatimah) dan penjelasan hal ehwal nabi-nabi a.s. yang takut dan orang-orang shalih-kiranya rahmat Allah kepada mereka.  Kita bermohon kepada Allah akan kebaikan taufiq.

PENJELASAN: hakikat takut.

Ketahuilah kiranya, bahwa takut itu ibarat dari kepedihan dan kebakaran hati, disebabkan terjadinya yang tidak disukai pada masa depan. Dan telah jelas ini pada: penjelasan hakikat harap. Orang yang jinak hatinya kepada Allah, kebenaran memiliki hatinya dan ia menjadi putera zamannya, yang menyaksikan keelokan kebenaran secara terus-menerus, nescaya tidak ada baginya penolehan kepada masa depan. Maka tidak ada baginya takut dan harap. Akan tetapi, jadilah keadaannya lebih tinggi dari takut dan harap. Maka sesungguhnya takut dan harap itu dua kekang yang mencegah diri dari keluar kepada ketetapan keadaannya. Dan kepada inilah, diisyaratkan oleh AI-Wasithi, di mana ia berkata: "Takut itu dinding (hijab) di antara Allah dan hamba".

AI-Wasithi mengatakan pula: "Apabila lahirlah kebenaran kepada rahasia, nescaya tidak ada lagi padanya keutamaan bagi harap dan takut". Kesimpulannya, bahwa orang yang mencintai, apabila hatinya sibuk menyaksikan yang dicintainya, dengan takut berpisah, nescaya adalah yang demikian itu kekurangan pada penyaksian kepada Allah. Dan sesungguhnya keterus-menerusan penyaksian itu maqam (tingkat) yang penghabisan. Akan tetapi, kita sekarang akan memperkatakan, mengenai tingkat permulaan (awa-ilul-maqamat). Maka kami katakan: bahwa hal-ehwal takut itu teratur juga dari: ilmu, hat keadaan dan amal.

Adapun ilmu, maka ilmu dengan sebab yang membawa kepada yang tiada disukai. Dan yang demikian itu, seperti: orang yang berbuat aniaya atas raja. Kemudian, ia jatuh dalam tangan raja. Maka ia takut akan pembunuhan umpamanya. Dan memungkinkan juga kema'afan dan kelepasan. Akan tetapi, adalah kepedihan hatinya, disebabkan takut, menurut kekuatan pengetahuannya dengan sebab-sebab yang membawa kepada pem-bunuhannya. Dan itu kekejian penganiayaannya. Dan keadaan raja itu dengki pada dirinya, marah dan pembalas dendam. Dan keadaan dirinya dikelilingi, dengan orang yang membangkitkan kepada pembalasan dendam. Kosong dari orang yang memberi bantuan kepada pihaknya. Dan adalah orang yang takut ini kosong dari setiap jalan dan kebaikan, yang menghapuskan bekas penganiayaannya pada raja.

Maka mengetahui dengan jelasnya sebab-sebab itu adalah sebab kuatnya ketakutan dan sangatnya kepedihan hati. Dan menurut lemahnya sebab-sebab itu melemahkan takut. Dan kadang-kadang adalah takut itu, tidak dari sebab penganiayaan yang diperbuat oleh orang yang takut. Akan tetapi, dari sifat pihak yang menakutkan. Seperti orang yang jatuh dalam cengkeraman binatang buas. Maka dia itu takut, kerana sifat binatang buas. Yaitu: lobanya dan ganasnya - biasanya - atas mangsanya. Walaupun mangsanya itu dengan pilihannya.

Kadang-kadang adalah takut itu, dari sifat tabiat bagi yang ditakuti. Seperti takutnya orang yang jatuh dalam aliran banjir atau dekat benda yang terbakar. Maka sesungguhnya air itu ditakuti, kerana menurut tabiatnya mcmbawa kepada mengalir dan tenggelam. Dan begitu pula api, kepada membakar. Maka ilmu dengan sebab-sebab yang tidak disukai itu, menjadi sebab yang menggerakkan, yang membangkitkan kepada terbakarnya hati dan merasa kepedihan.

Dan kebakaran itu, ialah: takut.

Maka seperti itu pula takut kepada Allah Ta'ala. Sekali adalah kerana ma'rifah kepada Allah Ta'ala dan ma'rifah sifat-sifatNYA. Dan jikalau Allah membinasakan alam semesta, nescaya ia tiada memperdulikan dan tiada pencegah: yang mencegahkan. Dan sekali adalah takut itu, kerana banyaknya penganiayaan hamba, dengan mengerjakan perbuatan-perbuat-an maksiat. Dan menurut tahunya akan kekurangan dirinya dan ma'rifahnya akan keagungan Allah Ta'ala dan Allah tidak memerlukan kepadanya. Dan sesungguhnya Allah tidak ditanyakan dari apa yang diperbuatNYA dan mereka itu ditanyakan. Dan adalah ma'rifah itu di atas ketakutannya.

Maka manusia yang paling takut kepada Tuhannya, ialah mereka yang lebih mengenal akan dirinya dan Tuhannya. Dan kerana itulah Nabi s.a.w. bersabda:-

clip_image012

Ertinya: "Aku yang lebih takut kepada Allah daripada kamu": (I)

Demikian pula, Allah Ta'ala berfirman:-

clip_image014

Ertinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNYA, ialah: orang-orang yang berilmu (ulama)". S. Fathir, ayat 28, Kemudian, apabila ma'rifah telah sempurna, nescaya mengwariskan keagungan takut dan terbakarnya hati. Kemudian, melimpahkan bekas kebakaran dari hati kepada badan, kepada anggota-anggota badan dan kepada sifat-sifat.

(1) Dirawikan AI-Bukhari dari Anas.

Adapun pada badan, maka dengan kurus, kuning warna, pingsan, jeritan dan tangisan. Dan kadang-kadang terhisap kepahitan, lalu membawa kepada mati. Atau naik ke otak, lalu merosakkan akal. Atau menguat, lalu mengwarisi patah hati dan putus asa.

Adapun pada anggota-anggota badan, maka dengan mencegahkannya dari perbuatan-perbuatan maksiat dan mengikatkannya dengan amalan tha'at, untuk mendapatkan bagi yang telah telanjur dan menyiapkan bagi masa mendatang.

Dan kerana itulah, dikatakan: tidaklah orang yang takut itu orang yang menangis dan menyapu dua matanya. Akan tetapi, orang yang meninggalkan apa yang ia takutkan, bahwa ia akan disiksa dengan perbuatan itu. Abdul-Qasim AI-Hakim berkata: "Siapa yang takut akan sesuatu, nescaya ia lari daripadanya. Dan siapa yang takut akan Allah, nescaya ia lari ke-pada Allah".

Ditanyakan kepada Dzin-Nun: "Kapan hamba itu takut?"

Dzin-Nun menjawab: "Apabila ia menempatkan dirinya pada tempat orang yang sakit yang menjaga diri, kerana takut berkepanjangan sakit", Adapun pada sifat-sifat, maka dengan mencegah dari nafsu-syahwat dan mengeruhkan segala kesenangan. Lalu perbuatan-perbuatan maksiat yang disukai itu, menjadi tidak disukainya. Sebagaimana air madu menjadi tidak disukai, pada orang yang mengingininya, apabila ia tahu, bahwa pada air madu itu ada racun. Maka terbakarlah nafsu-syahwat dengan takut, Dan menjadi beradablah semua anggota badan. Dan berhasillah dalam hati itu kelayuan, ke-khusu'-an, kehinaan diri dan ketenangan. Dan berpisahlah dengan dia, kesombongan, kebusukan hati dan kedengkian. Akan tetapi, jadilah dia yang melengkapi kesusahan hati, dengan takutnya dan perhatian pada bahaya akibatnya.

Maka ia tidak mengosongkan waktunya bagi yang lain. Dan tiada baginya kesibukan selain: muraqabah (mengintip kekurangan diri), muhasabah (memperhitungkan amal perbuatan sendiri), mujahadah,kikir dengan nafas dan perhatian, penyiksaan diri dengan segala gurisan, langkah dan kata-kata. Dan adalah keadaannya itu keadaan orang yang jatuh dalam cengkeraman binatang buas, yang mendatangkan melarat, Ia tidak tahu, bahwa binatang buas itu akan lengah daripadanya, lalu ia terlepas. Atau binatang buas itu menyerangnya, lalu ia binasa. Maka adalah zahiriyahnya dan batiniyahnya sibuk dengan apa yang ia takutkan. Tiada peluang padanya untuk yang lain.

Inilah keadaan orang, yang dikerasi oleh ketakutan dan yang menguasainya, Dan begitulah keadaan sekumpulan dari para shahabat dan orang-orang tabi'in. Dan kuatnya muraqabah, muhasabah dan mujahadah itu, menurut kuatnya takut yang menjadi kepedihan dan terbakarnya hati. Dan kuatnya takut itu, menurut kuatnya ma'rifah dengan keagungan Allah, sifat-sifatNYA dan af’alNYA. Dan mengetahui dengan kekurangan diri dan apa yang dihadapinya, dari marabahaya dan huru-hara. Dan yang paling sedikit dari darjat takut, dari apa yang menampak bekasnya pada amal-perbuatan, ialah, bahwa mencegah dari perbuatan-perbuatan yang terlarang. Dan dinamakan cegahan yang berhasil dari perbuatan-perbuatan terlarang itu: wara'.

Maka jikalau bertambah kuatnya, nescaya ia mencegah daripada apa yang berjalan kepadanya, kemungkinan melakukan yang diharamkan. Maka bagaimana pula, daripada apa yang tidak diyakini pengharamannya. Dan dinamakan yang demikian itu: taqwa . Kerana taqwa, ialah, bahwa: ditinggalkan apa yang meragukannya, kepada apa yang tidak meragukannya. Dan kadang-kadang membawanya, kepada meninggalkan apa yang tiada mengapa padanya. Kerana takut akan apa, yang ada padanya apa-apa. Dan itulah: kebenaran pada taqwa.

Maka apabila bercampur kepadanya ke-semata-mata-an kepada pelayanan, maka jadilah ia tidak membangun akan apa yang tiada akan ditempatinya. Dan ia tidak mengumpulkan, apa yang tiada akan dimakannya. Dan ia tidak berpaling kepada dunia, yang diketahuinya, bahwa dunia itu akan bercerai dengan dia. Dan ia tidak menyerahkan suatu nafaspun dari nafas-nafasnya. kepada selain Allah Ta'ala. Maka itulah: kebenaran. Dan yang mempunyai sifat ini, pantaslah dinamakan: shiddiq. Dan masuk dalam kebenaran ini: taqwa. Dan masuk dalam taqwa itu: wara'. Dan masuk dalam wara' itu: 'iffah (terpelihara diri dari segala yang tidak baik). Maka 'iffah itu ibarat, daripada mencegah diri dari yang dikehendaki nafsu-syahwat khususnya.

Jadi, takut itu membekas pada seluruh anggota badan, dengan pencegahan dan penampilan. Dan terus membaru baginya, dengan sebab pencegahan itu: nama 'iffah. Yaitu: pencegahan dari kehendak nafsy-syahwat. Dan yang paling tinggi daripadanya, ialah: wara'. Maka wara' itu lebih umum, kerana ia mencegah dari setiap yang dilarang. Dan yang lebih tinggi daripadanya, ialah: taqwa. Maka taqwa itu nama bagi pencegahan dari semua yang dilarang dan subahat. Dan di belakangnya: nama shiddiq dan muqarrab (orang yang dekat dengan Tuhan). Dan berlakulah tingkat yang akhir daripada yang sebelumnya, sebagai berlakunya: yang lebih khusus daripada yang lebih umum. Maka apabila anda menyebutkan yang lebih khusus, maka sesungguhnya anda telah menyebutkan: semua. Sebagaimana anda mengatakan: manusia, adakalanya orang Arab dan adakalanya orang 'Ajam (di luar Arab). Dan orang Arab itu, adakalanya orang Quraisy atau bukan Quraisy. Dan orang Quraisy itu, adakalanya Hasyimi (keturunan Hasyim) atau bukan Hasyimi. Dan Hasyimi itu, adakalanya 'Alawi (keturunan AU) atau bukan 'Alawi. Dan 'Alawi itu adakalanya Hasani (keturunan Hasan) atau Husaini (keturunan Husain).

Maka apabila anda menyebutkan, bahwa dia itu Hasani-umpamanya, maka anda telah menyifatkan dengan: keseluruhan (al-jamU'). Dan jikalau anda menyifatkan, bahwa orang itu: 'Alawi, maka anda telah menyifatkannya, dengan yang di atasnya, dari apa, yang lebih umum lagi. Maka demikian pula, apabila anda mengatakan: shiddiq, maka sesungguhnya, anda sudah mengatakan, bahwa orang itu: taqwa, wara' dan 'iffah. Maka tiada sayogialah bahwa anda menyangka, bahwa kebanyakan nama-nama ini menunjukkan erti-erti yang banyak, yang berlain-lainan. Lalu bercampur-aduk kepada anda, sebagaimana bercampur-aduknya pada orang yang mencari erti dari kata-kata. Dan ia tidak mengikutkan kata-kata itu dengan erti.       .

Maka inilah isyarat kepada kumpulan erti takut dan apa yang meliputinya, dari segi ketinggian, seperti ma'rifah yang mewajibkannya. Dan dari segi kebawahan, seperti amal-perbuatan yang terbit daripadanya, sebagai cegahan dan penampilan.

Tingkat-tingkat takut dan perbedaannya tentang kuat dan lemahnya.

Ketahuilah kiranya, bahwa takut itu terpuji. Kadang-kadang disangka orang, bahwa setiap apa yang dinamakan takut itu: terpuji. Maka setiap apa yang ada lebih kuat dan lebih banyak, nescaya adalah: lebih terpuji. Dan itu salah. Akan tetapi, takut itu cemeti Allah, yang dengan cemeti ini dibawaNYA hamba-hambaNYA kepada kerajinan kepada ilmu dan amaI. Supaya mereka mencapai dengan ilmu dan amal itu tingkat kedekatan dengan Allah Ta'ala.

Dan yang lebih baik bagi binatang ternak, bahwa ia tiada terlepas dari cemeti. Dan demikian juga anak kecil. (1). Akan tetapi, yang demikian itu tidak menunjukkan, bahwa bersangatan pada pemukulan itu terpuji. Demikian juga, takut itu mempunyai kesingkatan, mempunyai kesangatan dan mempunyai kesedangan. Dan yang terpuji, ialah: kesedangan dan pertengahan.

Adapun yang singkat dari ketakutan itu, maka ialah yang berlaku sebagai berlakunya kehalusan wanita, yang mana ketakutan itu terguris di hati, ketika mendengar suatu ayat dari AI-Quran. Lalu mendatangkan tangisan dan meneteskan air mata. Dan seperti yang demikian juga, ketika menyaksikan suatu sebab yang menggemparkan. Maka apabila sebab tersebut lenyap dari perasaan, nescaya kembalilah hati kepada kelupaan.

Maka inilah ketakutan yang singkat, yang sedikit faedahnya, yang lemah manfaatnya. Dan itu adalah seperti ranting yang kedl, yang dipukul binatang kenderaan yang kuat, dengan ranting itu. Yang tidak menyakitkannya dengan kesakitan yang menyakitkan. Lalu dapat membawakannya kepada yang dimaksud. Dan tiada baik bagi latihannya.

(1) Cara yang demikian terpakai dahulu. Tapi sekarang, tentu yang bersesuaian dengan zamannya. zaman metodik pendidikan modem. (Peny.)

Begitulah takutnya semua manusia, selain orang-orang 'arifin (yang ber-ma'rifah) dan para ulama. Dan tidaklah aku maksudkan dengan ulama itu, orang-orang rasmi, dengan kerasmian ulama dan yang dinamakan dengan nama ulama. Maka sesungguhnya mereka itu adalah manusia yang terjauh dari ketakutan. Akan tetapi, yang aku maksudkan, ialah: para ulama pada jalan Allah, mengetahui hari-hariNYA dan af’alNYA. Dan yang demikian itu, sesungguhnya sukar didapati sekarang. Dan karena itulah, AI-Fudlail bin 'Iyadl berkata: "Apabila ditanyakan kepada engkau: "Adakah engkau takut kepada Allah?", maka diamlah! Maka sesungguhnya jikalau engkau menjawab: tidak, nescaya engkau kufur. Dan jikalau engkau menjawab: ya, nescaya engkau dusta".

Beliau mengisyaratkan dengan yang demikian, bahwa takut, ialah yang mencegah anggota-anggota badan dari perbuatan-perbuatan maksiat. Dan mengikatkannya dengan amalan-amalan tha'at. Dan apa yang tidak membekaskan pada anggota badan, maka itu kata hati dan gerakan gurisan di hati. Tidak berhak untuk dinamakan: takut.

Adapun yang bersangatan, maka yaitu: yang kuat dan melampaui batas kesedangan. Sehingga ia keluar kepada putus asa dan hilang harapan. Dan itu tercela pula. Karena ia mencegah dari amal.

Kadang-kadang takut itu keluar pula kepada kesakitan dan kelemahan. Kepada kebimbangan, keheranan dan kehilangan akal'

Maka yang dimaksudkan dari takut, ialah: apa yang dimaksudkan dari cemeti. Yaitu: membawa kepada amal-perbuatan. Dan jikalau tidak membawa yang demikian, nescaya tidaklah takut itu sempurna. Karena dia itu kurang dengan hakikatnya. Karena tempat terjadinya itu kebodohan dan kelemahan.

Adapun kebodohan, maka ia tidak tahu akan akibat pekerjaannya. Jikalau ia tahu, nescaya ia tidak takut. Karena yang menakutkannya, ialah: yang diragukan padanya.

Adapun kelemahan, maka yaitu ia mendatangkan kepada yang ditakuti, yang tidak sanggup ia menolaknya. Jadi, takut itu terpuji, dengan dikaitkan kepada kekurangan anak Adam (manusia). Dan yang terpuji pada dirinya dan zatnya, ialah: ilmu, qudrah (kemampuan) dan setiap apa yang boleh disifatkan Allah Ta'ala dengan dia.

Dan yang tidak boleh disifatkan Allah Ta'ala dengan dia, maka tidak dia itu sempurna pada zatnya. Dan sesungguhnya jadi ia terpuji, dengan dikaitkan kepada kekurangan, yang lebih besar daripadanya. Sebagaimana adanya penanggungan kepedihan obat itu terpuji. Karena dia itu lebih ringan dari kepedihan sakit dan mati. Maka apa yang keluar kepada ke-putus-asa-an, maka itu tercela.

Kadang-kadang takut itu keluar pula kepada kesakitan dan kelemahan. Kepada kebimbangan, kehetanan dan kehilangan aka!' Kadang-kadang ia keluar kepada mati. Dan setiap yang demikian itu tercela. Dan itu adalah seperti pukulan, yang membunuh anak kecil. Dan cemeti yang membinasakan binatang kenderaan atau menyakitkannya. Atau memecahkan salah satu anggota tubuhnya.

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah menyebutkan sebab-sebab harapan dan kebanyakan daripadanya, supaya dapat mengobatkan serangan takut yang bersangatan, yang membawa kepada ke-putus-asa-an atau salah satu dari hal-hal itu.

Maka setiap apa yang dimaksudkan karena sesuatu hal, maka yang terpuji daripadanya, ialah: apa yang membawakan kepada yang dikehendaki dan yang dimaksudkan daripadanya. Dan apa yang menyingkatkan dari yang demikian atau melampauinya, maka itu tercela.

Faedah takut, ialah: hati-hati, taqwa, mujahadah, ibadah, fikir, dzikir dan sebab-sebab yang lain, yang menyampaikan kepada Allah Ta'ala. Dan setiap yang demikian, membawa kehidupan serta kesehatan badan dan kesejahteraan akal. Maka setiap apa yang mencederakan pada sebab-sebab tersebut, maka itu tercela.

Maka jikalau anda mengatakan: siapa yang takut, lalu ia mati dari ketakutannya, maka orang itu syahid. Maka bagaimana ada keadaannya itu tercela?

Maka ketahuilah, bahwa arti adanya ia syahid, ialah, bahwa: ia mempunyai tingkat, disebabkan kematiannya dari ketakutan. Ia tidak akan mencapai tingkat itu, jikalau ia mati pada waktu itu. tidak disebabkan ketakutan. Maka itu dikaitkan kepada yang demikian, adalah keutamaan. Adapun dengan dikaitkan kepada ditakdirkan masih adanya dan panjang umurnya pada mentha'ati Allah dan menempuh jalan-jalanNYA, maka tidaklah itu keutamaan. Bahkan, bagi orang yang berjalan kepada Allah Ta'ala dengan jalan fikir (tafakkur), mujahadah dan mendaki pada tingkat-tingkat ma'rifah, pada setiap detik itu, mempunyai pangkat syahid dan syuhada'. Dan jikalau tidaklah ini, nescaya adalah pangkat anak kecil yang terbunuh atau orang gila yang diterkam binatang buas itu, lebih tinggi dari pangkat nabi atau wali yang meninggal begitu saja. Dan itu adalah mustahil. Maka tiada sayogialah disangkakan itu. Akan tetapi, kebahagiaan yang paling utama, ialah panjang umur pada mentha'ati Allah Ta'ala. Maka setiap apa yang merosakkan umur atau akal atau kesehatan, yang menjadi kosong umur dengan pengrosakan itu, maka itu kerugian dan kekurangan, dengan dikaitkan kepada beberapa hal. Walau pun ada setengah bahagiannya itu keutamaan, dengan dikaitkan kepada hal-hal yang lain. Seperti naik saksi itu suatu keutamaan, dengan dikaitkan kepada yang kurang daripadanya. Tidak, dengan dikaitkan kepada darajat orang-orang muttaqin dan shiddiqin.

Jadi, takut itu, jikalau tiada membekaskan pada amal, maka adanya itu seperti tidak adanya. Seperti cemeti yang tidak menambahkan pada gerak-oya binatang kenderaan. Dan jikalau membekas, maka baginya tingkat-tingkat menurut lahirnya keberkasannya.

Jikalau takut itu tidak membawa, selain kepada 'iffah, yaitu: mencegah daripada yang dikehendaki nafsu-syahwat, maka ia mempunyai tingkat. Maka apabila wara' itu berbuah, nescaya itu lebih tinggi. Dan yang terjauh tingkatnya, ialah, bahwa membuahkan tingkat-tingkat orang shiddiqin. Yaitu, bahwa: tercabut zahir dan batin daripada selain Allah Ta'ala. Sehingga, tiada tinggal bagi selain Allah Ta'ala, kelapangan padanya. Maka inilah yang terjauh (tingkat yang tertinggi) apa yang terpuji daripadanya. Dan yang demikian itu serta tetapnya sehat dan akal.

Maka jikalau ini melampaui kepada hilangnya akal dan kesehatan, maka itu penyakit yang harus diobati, jikalau ia mampu. Dan jikalau itu terpuji, nescaya tidak wajib mengobatinya dengan sebab-sebab harapan dan lain-nya. Sehingga hilang.

Dan karena itulah, Sahl r.a. mengatakan kepada murid-murid yang selalu melaparkan diri pada hari-hari yang banyak jumlahnya: "Jagalah akal-pikiranmu! Sesungguhnya Allah Ta'ala tiada mempunyai wali, yang kurang akal"

Bahagian-bahagian takut, dengan dikaitkan kepada apa yang ditakutkan.

Ketahuilah kiranya, bahwa takut itu tidak dapat diyakini, selain dengan menunggu yang tiada disukai. Dan yang tidak disukai itu, adakalanya dia itu tidak disukai pada dirinya sendiri (zatnya), seperti: api. Dan adakalanya dia itu tidak disukai, karena membawa kepada yang tidak disukai. Seperti perbuatan-perbuatan maksiat itu tidak disukai, karena ia membawa kepada yang tidak disukai di akhirat. Sebagaimana orang sakit tidak menyukai buah-buahan yang mendatangkan melarat, karena dibawanya kepada mati.

Maka tidak boleh tidak, bagi setiap orang yang takut, bahwa mencontohkan pada dirinya, yang tidak disukai itu dari salah satu dua bahagian. Dan menguatkan penungguannya pada hatinya. Sehingga membakarkan hatinya, disebabkan dirasainya yang tidak disukainya itu.

Tingkat orang-orang yang takut itu berlainan, pada apa yang mengerasi atas hatinya, dari hal-hal yang tidak disukai, yang ditakuti. Maka orang-orang yang mengerasi atas hatinya, apa yang tidak dibencikan bagi zatnya, akan tetapi bagi lainnya, adalah seperti orang-orang yang mengerasi atas mereka, ketakutan kepada mati sebelum tobat. Atau ketakutan runtuhnya tobat dan mungkirnya janji. Atau ketakutan lemahnya kekuatan daripada menepati dengan kesempurnaan hak-hak Allah Ta'ala. Atauketakutan hilangnya kehalusan hati dan bergantian dengan kekasaran. Atau ketakutan kepada kecenderungan dari istiqamah (kelurus~n dan ketetapan pendirian). Atau ketakutan berkuasanya adat kebiasaan pada mengikuti nafsu syahwat yang dibinasakan. Atau ketakutan, bahwa ia dilesukan oleh Allah Ta'ala pada kebaikan-kebaikan, yang ia berpegang padanya dan yang menyukarkan pada hamba-hamba Allah. Atau ketakutan kepada kesombongan, disebabkan banyaknya nikmat Allah kepadanya. Atau ketakutan kepada kesibukan jauh dari Allah, dengan yang lain dari Allah. Atau ketakutan terperosok ke jalan yang salah, disebabkan berturut-turutnya kedatangan nikmat. Atau ketakutan tersingkapnya yang membahayakan ketha'atannya, di mana nampak baginya dari Allah Ta'ala, apa yang tidak disangkakannya. Atau ketakutan terikutnya manusia padanya tentang umpatan, khianatan, tipuan dan menyembunyikan yang buruk. Atau ketakutan kepada apa yang tidak diketahuinya, bahwa itu akan datang pada sisa-sisa umurnya. Atau ketakutan tersegeranya siksaan di dunia dan tersiarntasebelum mati. Atau ketakutan tertipu dengan keelokan-keclokan dunia. Atau kctakutan dilihat oleh Allah Ta'ala atas rahasianya pada kc-adaan kelalaiannya. Atau ketakutan kepada kcsudahannya ketika mati. dengan kesudahan yang buruk (su-ul-khatimah). Atau ketakutan kepada yang mendahului baginya, yang telah dahulu pada azali.

Maka ini semuanya adalah tempat takutnya orang-orang 'arifin. Dan bagi setiap sesuatu itu mempunyai faedah khusus, Yaitu: menempuh jalan berhati-hati, dari apa yang membawa kepada yang menakutkannya.

Maka siapa yang takut dikuasai oleh adat-kebiasaan, maka hendaklah ia membiasakan berpisah dari adat-kebiasaan. Dan orang yang takut dilihat oleh Allah Ta'ala akan rahasia batinnya itu, hendaknya bekerja mcnsucikan hatinya daripada waswas (bisikan setan). Dan bagitulah pada bahagian-bahagian yang lain.

Yang lebih keras segala ketakutan ini atas keyakinan, ialah: ketakutan buruk kesudahan (su-ul-khatimah). Sesungguhnya urusan padanya itu amat membahayakan. Yang paling tinggi dan yang paling menunjukkan dari bahagian-bahagian itu kepada kesempurnaan ma'rifah, ialah': ketakutan bagi yang mendahului. Karena yang menyudahi (al-khatimah) itu mengikuti akan yang mendahului (as-sabiqah), Dan cabang yang bercabang dari yang mendahului itu diselang-selangi ban yak sebab. Maka a/-kharimah itu menampakkan apa yang telah terdahulu qadha’ (ketetapan Tuhan) dalam ummul-kitab (luh-mahfudh). Dan orang yang takut kepada al-khatimah, dikaitkan kepada orang yang takut kepada as-sabiqah. adalah seperti dua orang laki-laki, yang telah ditanda-tangani oleh raja terhadap dirinya. Mungkin bahwa pada tanda-tangan Itu dipotong Iehernya dan mungkin bahwa diserahkan kementerian kepadanya Dan tanda tangan ilU belum sampai kepada keduanya kemudian. Maka terikatlah hati salah seorang daripada keduanya. dengan keadaan sampainya dan tersiarnya tanda tangan itu. Dan sesllngguhnya apa yang akan lahir? Dan yang seorang lagi, hatinya terikat dengan keadaan tanda tangan raja dan caranya. Dan apa yang terguris bagi raja, pada keadaan tanda tangan itu, belas kasihan atau kemarahan. Dan ini adalah penolehan kepada sebab. Maka itu adalah lebih tinggi daripada penolehan kepada apa, yang menjadi cabang.

Maka seperti demikianlah penolehan kepada ketetapan azali yang berlaku dengan ditanda-tanganinya AI-Qalam (pada Luh-mahfudh) itu lebih tinggi daripada penolehan kepada apa yang lahir pada yang abadi. Dan kepada itulah, diisyaratkan oleh Nabi s.a.w., di mana beliau berada di atas mimbar. Lalu beliau menggenggam tapak tangannya yang kanan. Kemudian, beliau bersabda: "Ini Kitab Allah yang dituliskan padanya akan penduduk sorga dengan nama-nama mereka dan nama-nama bapak mereka. Tidak ditambahkan pada mereka dan tidak dikurangkan".

Kemudian, beliau menggenggamkan tapak tangannya yang kiri dan bersabda: "Ini Kitab Allah, yang dituliskan padanya akan penduduk neraka, dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka. Tidak ditambahkan pada mereka dan tidak dikurangkan. Dan hendaklah diperbuat oleh orang yang memperoleh kebahagiaan, dengan perbuatan orang yang memperoleh kecelakaan. Sehingga dikatakan, seakan-akan orang yang memperoleh kebahagiaan itu adalah dari orang-orang yang memperoleh keeelakaan. Bahkan mereka (orang-orang yang memperoleh kebahagiaan) itu, adalah mereka (orang-orang yang memperoleh keeclakaan). Kemudian, mereka itu dilepaskan oleh Allah, scbelum mati. walau pun lamanya, selama istirahat di antara dua kali perahan susu unta. (I). Dan hendaklah diperbuat oleh orang yang memperoleh kecelakaan, dengan perbuatan orang yang memperoleh kebahagiaan. Sehingga dikatakan, scakan-akan orang yang mernperoleh keeelakaan itu adalah dari orang-orang yang memperoleh kcbahagiaan. Bahkan rnercka (orang-orang yang rnempcroleh keeelakaan) itu, adalah rncreka (orang-orang yang mcmpcroleh kebahagiaan). Kemudian, mereka dikelliarkan oleh Allah sebelum mati, walau pun lamanya, selama istirahat di antara dua kali perahan susu unta. Orang yang berbahagia, ialah orang yang berbahagia dengan qadha’ (ketetapan) Allah. Dan orang yang celaka, ialah orang yang celaka dengan qadha’ Allah. Dan semua amal-perbuatan itu dipandang kepada kesudahan (alkhatimah)nya". (2).

Dan ini adalah seperti terbaginya orang-orang yang takut, kepada: orang yang takut akan perbuatan maksiatnya dan penganiayaannya. Dan kepada: orang yang takut akan Allah Ta'ala sendiri, karena sifatNY A dan ke-AgunganNYA. Dan sifat-sifatNYA - sudah pasti - yang menghendaki akan ketakutan dari hambaNYA.

Maka inilah tingkat yang tertinggi. Dan karena itulah, berkekalan takut kepadaNYA, walau pun adanya pada ketha'atan orang-orang shiddiqin.

(I) Maksudnya: lama masanya sebelum ia mali selama masa di anlara dua kali perahan susu. Berapakah lamanya masa dari masa perahan kesatu kepada lainnya. (Peny.)

(2) Dirawikan AI-Tirmidzi dari Abdullah bin 'Amir bin AI-‘Ash. hasan gharib.

Adapun yang lain (takut kepada perbuatan maksiat), maka takut itu dalam halaman keterpedayaan dan keamanan, jika ia rajin mengerjakan amalan tha’at. Maka takut dari perbuatan maksiat itu takut orang-orang shalih. Dan takut kepada Allah itu takllt orang-orang yang bertauhid (almuwalthidin) dan orang-orang shiddiqin. Dan itu adalah buah ma'rifah kepada Allah Ta 'ala.

Setiap orang yang mengenal Allah dan mengenal sifat-sifatNYA, niscaya ia tahu dari sifat-sifatNY A, akan apa yang layak untuk ditakutkan, tanpa penganiayaan kepada diri. Bahkan orang yang berbuat maksiat, jikalau ia henar-hcnar mcngenal Allah, niscaya ia takut kepada Allah, Dan ia tidak takut akan perhuatan maksiat kepadaNYA. Jikalau tidaklah DIA itu mempertakutkan kepada diriNYA. niscaya tidak dijadikanNYA akan hambaNYA berbuat maksiat. DipermudahkanNYA jalan maksiat kepada hamha itu. DisediakanNYA sebab-sebab maksiat. Maka sesungguhnya pemudahan sehab-schah maksiat itu penjauhan daripadaNYA. Dan tidak terdahulu daripada sebelum maksiat itu, akan suatu kemaksiatan, yang berhak untllk dipermudahkan hagi kemaksiatan. Dan berlaku atasnya sebab-sebab maksiat. Dan tiada terdahulu sebelum amal tha'at itu, jalan, yang menjadi jalan dengan tha'at itu hagi orang. yang akan memudahkan bagiNYA ketha'atan. Dan menyediakan haginya jalan kedekatan kepada Allah Ta’ala. Maka orang yang maksiat itu telah ditakdirkan qadha’ Tuhan atas dirinya ia mau atau tidak. Dan begitu pula orang yang mengerjakan tha’at.

Maka yang mengangkatkan Muhammad s.a.w. ke tingkat yang paling tinggi (a 'Ia- 'illiyyin). tanpa jalan perantaraan (wasilah l. yang mendahului daripadanya, sebelum adanya dan yang merendahkan Abu Jahal pada tingkat yang paling rendah, tanpa penganiayaan yang mendahului daripadanya, sehelum adanya itu, layak untuk ditakutkan kepadaNYA, karena sifat keagunganNYA. Maka sesungguhnya siapa yang mentha'ati Allah. niscaya ia mentha'ati, dengan berkuasa ke atas dirinya iradah (kehendak) tha 'at. Dan IA mendatangkan kepadanya akan kesanggupan (qudrah). Dan sesudah penciptaan iradah (kehendak) yang mantap dan qudrah (kesanggupan) yang sempurna. niscaya jadilah perbuatan itu mudah. Dan orang yang berbuat maksiat itu berbuat maksiat. karena telah dikerasi atas dirinya. kehendak yang kuat dan mantap. Dan didatangkan kepadanya sebab-sebab  dan kemampuan. Maka adalah perbuatan, sesudah iradah dan qudrah itu mudah. Maka demi kiranya, apakah yang mengharuskan pemuliaan ini dan peng-khusus-an-nya, dengan penguasaan kehendak tha 'at atas dirinya? Dan apakah yang mengharuskan penghinaan akan yang lain dan pen-jauhannya, disebabkan dengan penguasaan pengajak-pengajak kemaksiat-an ke atas dirinya? Dan bagaimana diperlakukan yang demikian atas hamba? Dan apabila perlakuan itu kembali keqadha-azali, tanpa peng-aniayaan dan wasilah, maka ketakutan kepada Yang Meng-qadha’kan dengan apa kehendakNYA dan menghukum dengan apa kemauanNYA itu, adalah suatu kekokohan pikiran pada setiap orang yang berakal. Dan di sebalik arti ini adalah rahasia qadar (taqdir), yang tidak diperbolehkan pe-nyiarannya.

Dan tidak mungkin memahami takut itu mengenai sifat-sifat Allah Jalla Jalaluh, selain dengan contoh. Jikalau tidaklah keizinan syara', niscaya tidaklah berani orang yang mempunyai mata-hati menyebutkannya. Se-sungguhnya telah datang pada hadits, bahwa Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada nabi Dawud a.s.: "Hai Dawud! Takutlah kepadaKU, se-bagaimana engkau takut kepada binatang buas, yang ganas". (1). Contoh ini, memberi pemahaman kepada engkau, akan hasil pengertiannya. Walaupun tidak memberi pengertian kepada engkau akan sebabnya. Sesungguhnya pengertian atas sebabnya itu adalah pengertian akan rahasia qadar (taqdir). Dan tidak tersingkap yang demikian, selain bagi ahlinya. Walhasil, bahwa binatang buas itu ditakuti, tidak karena penganiayaan yang telah mendahului kepada engkau daripadanya. Akan tetapi, karena sifatnya, serangannya, kekerasannya, kesombongannya dan kehebatannya. Dan karena ia berbuat, akan apa yang diperbuatnya. Dan ia tidak ambil pusing. Jikalau ia membunuh engkau, niscaya hatinya tidak menaruh kasihan. Dan ia tidak merasa pedih, dengan membunuh engkau itu. Dan jikalau ia melepaskan engkau, maka tidak dilepaskannya engkau karena kasih sayang kepada engkau. Dan karena mengekalkan nyawa engkau. Akan engkau pada sisi binatang buas itu lebih keji, daripada ia menoleh kepada engkau. Hidup engkau atau mati. Bahkan, pembinasaan seribu orang seperti engkau dan pembinasaan seekor semut pada binatang buas itu, adalah sama saja. Karena tidak mencederakan yang demikian itu pada alam kebuasannya dan apa yang ia disifatkan, dari kemampuan dan kekerasannya.

Dan bagi Allah itu contoh yang tertinggi (al-matsa-Iul-a'-Iaa). Akan tetapi, siapa yang mengenal akan Allah, niscaya ia mengenal dengan penyaksian batiniyah, yang lebih kuat,lebih terpercaya dan yang lebih jelas, daripada penyaksian zahiriyah. Sesungguhnya IA Maha Benar pada firmanNYA:

"Mereka itu ke sorga dan AKU tiada perdulikan. Dan mereka itu ke neraka dan AKU tiada perdulikan".

Dan memadailah bagi engkau, daripada yang mengwajibkan kehebatan dan ketakutan, ialah: ma'rifah, dengan al-istigh-na' (Allah tidak memerlukan kepada makhluk) dan tidak memperdulikan.

(I) Menurut AI-Iraqi. beliau tidak pernah menjumpai hadits ini

TlNGKAT KEDUA dari orang-orang yang takut, ialah. bahwa: ia mencontohkan pada dirinya, akan apa yang tidak disukai. Dan yang demikian itu, seperti: sakaratul-maut dan kesangatannya. Atau pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Atau azab kubur. Atau huru-hara hari kebangkitan dari kubur. Atau kehebatan tempat perhentian di hadapan Allah Ta’ala, malu terbuka yang tertutup, pertanyaan di tempat perhentian itu dari hal yang sedikit dan yang halus. Atau takut dan titian (ash-shiratul-mustaqim), ketajamannya dan bagaimana melaluinya. Atau takut dari neraka, belenggunya dan ke-huru-hara-annya. Atau takut dari tidak memperoleh sorga negeri kenikmatan dan kerajaan tempat tinggal dan dari kekurangan tingkat-tingkatnya. Atau takut dari terdinding (terhijab) dari Allah Ta'ala. Semua sebab-sebab tersebut itu tidak disukai pada sebab-sebab itu sendiri. Maka dia itu - sudah pasti - menakutkan. Dan berbeda hal-keadaan orang-orang yang takut padanya. Dan tingkat yang paling tinggi dari sebab-sebab takut itu, ialah: takut terpisah dan terhijab daripada Allah Ta'ala. Yaitu: takut orang-orang ‘arifin. Dan sebelumnya itu, ialah: takut orang-orang yang berbuat amal ('amilin), orang-orang shalih, orang-orang zahid dan alam selengkapnya. Dan siapa yang tidak sempurna ma'rifahnya dan tidak terbuka mata-hatinya, niscaya ia tidak merasakan kelazatan hubungan (dengan Allah Ta'ala). Dan tidak merasakan kepedihan jauh dan berpisah. Dan apabila disebutkan kepada orang tadi, bahwa orang yang berma'rifah itu (orang 'arifin), tidak takut kepada neraka dan yang ia takut sesungguhnya, hijab (terdinding), niscaya orang tadi mendapatkan yang demikian itu pada batinnya melawan. Dan ia merasa heran yang demikian pada dirinya. Kadang-kadang ia ingkari akan kelazatan memandang kepada Wajah Allah Yang Maha Pemurah. Dan jikalau tidaklah ia dilarang Agama mengingkarinya, maka adalah pengakuannya dengan lidah itu dari karena paksaan taklid (ikut-ikutan). Kalau tidak, maka batinnya tidak membenarkannya. Karena ia tidak mengenal, selain kelazatan perut, kemaluan dan mata. dengan memandang kepada warna-warni dan muka-muka yang cantik.

Kesimpulannya, bahwa setiap kelazatan itu berkongsi padanya binatang-binatang. Adapun kelazatan orang-orang 'arifin, maka tidak didapati, selain oleh mereka. Penguraian dan pembentangan yang demikian itu tidak diperbolehkan kepada orang yang bukan ahlinya. Dan orang yang menjadi ahlinya, ia dapat melihat sendiri dan tidak memerlukan diuraikan oleh orang lain.

Maka kepada bahagian-bahagian inilah, kembalinya ketakutan orang-orang yang takut. Kita bermohon kepada Allah Ta'ala akan baiknya taufiq dengan kemurahanNYA.

keutamaan takut dan penggalakan kepada takut.

Ketahuilah, bahwa kelebihan takut itu, sekali diketahui, dengan pemer-hatian dan i'tibar. Dan pad a kali yang lain, dengan ayat-ayat dan hadits-hadits.

Adapun i'tibar, maka jalannya, ialah bahwa: keutamaan sesuatu itu me-nurut kadar kesanggupannya membawa kepada kebahagiaan bertemu dengan Allah Ta'ala di akhirat. Karena .tiadalah yang dimaksudkan, selain kebahagiaan itu. Dan tiada kebahagiaan bagi hamba, sdain pada me-nemui Tuhannya dan berdekatan kepadaNYA. Maka setiap apa yang menolong kepada yang demikian, maka baginya keutamaan, Dan keuta-maannya itu menurut kadar tujuannya. Dan telah jelas, bahwa tiada sam-pai kepada kebahagiaan bertemu dengan Allah di akhirat. selain dengan memperoleh kasih-sayangNYA. Dan jinak hati kepadaNYA di dunia, Dan kasih-sayang itu tiada akan berhasil, selain dengan ma'rifah. Dan ma'rifah itu tiada akan berhasil, selain dengan terus-menerus berfikir (tafakkur). Dan kejinakan hati itu, tiada akan berhasil, selain dengan kasih-sayang dan keterus-menerusan berdzikir. Dan tiada mudah kerajinan kepada dzikir dan fikir, selain dengan memutuskan kecintaan dunia dari hati. Dan yang demikian itu tiada akan terputus, selain dengan me-ninggalkan kelazatan dunia dan hawa-nafsunya.

Dan tidak mungkin me-ninggalkan yang menjadi hawa-nafsu itu, selain dengan mencegah nasfu-syahwat. Dan nafsu-syahwat itu tidak tercegah dengan sesuatu, seperti tidak tercegahnya dengan api ketakutan. Maka takut itu, ialah: api yang membakar nafsu-syahwat. Maka keutamaannya takut itu, menurut kadar yang membakarkan nafsu-syahwat. Dan menurut kadar yang mencegah perbuatan-perbuatan maksiat dan yang menggerakkan kepada perbuatan-perbuatan tha'at. Dan yang demikian itu berbeda, dengan berbedanya tingkat-tingkat takut, sebagaimana telah diterangkan dahulu. Dan bagai-mana takut itu tidak mempunyai keutamaan? Dengan takut itu, berhasil 'iffah, wara', taqwa dan mujahadah. Dan itu adalah amal-perbuatan yang terpuji, yang mendekatkan kepada Allah Ta'ala.

Adapun dengan jalan pengutipan dari ayat-ayat dan hadits-hadits, maka apa yang datang tentang keutamaan itu, di luar dari hinggaan. Dan cukup-lah bagi anda menjadi dalil tentang keutamaannya, bahwa Allah Ta'ala mengumpulkan bagi orang-orang yang takut, akan: petunjuk, rahmat. ilmu dan ridha. Dan itu adalah kumpulan tingkat-tingkat isi sorga,

Allah Ta'ala berfirman:- clip_image016

Artinya: "Petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya". S. AI-A'raaf, ayat 154.

Allah Ta'ala berfirman:- clip_image018

Artinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-NYA ialah: orang-orang yang berilmu (ulama)". S. Faathir, ayat 28. Allah menyifatkan mereka dengan ilmu, bagi ke-takutan mereka.

Allah 'Azza clip_image020wa lalla berfirman:-

Artinya: "Allah ridha (senang) kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah. Itu adalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya". S. AI-Bay-yinah, ayat 8.

Setiap apa yang menunjukkan kepada keutamaan ilmu itu menunjukkan kepada keutamaan takut. Karena takut itu buah ilmu. Dan karena itulah, tersebut pada ucapan Musa a.s.: "Adapun orang-orang yang takut, maka bagi mereka itu, Ternan Yang Mahatinggi (Ar-Rafiqul-a'ala), yang tiada bersekutu mereka dengan orang lain". (1).

Maka perhatikanlah, bagaimana Musa a.s. menyendirikan mereka dengan penemanan Ar-Rafiqul-a'ala? Dan yang demikian itu, karena mereka itu orang-orang yang berilmu (ulama). Dan ulama itu mempunyai tingkat penemanan dengan nabi-nabi. Karena para ulama itu pewaris nabi-nabi. Dan penemanan Ar-Rafiqul-a'ala itu bagi para nabi dan orang-orang yang berhubungan (mengikuti) dengan mereka.

clip_image022Dan karena itulah, tatkala Rasulullah s.a.w. disuruh pilih pada waktu sakitnya yang membawa kepada wafatnya, antara tetap di dunia dan datang kepada Allah Ta'ala, adalah ia bersabda:-

Artinya: "Aku bermohon akan Engkau, wahai Ar-Rafiqul-a'la". (2). Jadi, kalau dilihat kepada yang membuahkan takut itu, maka yaitu: ilmu.

(1) Ar-Rafiqul-a'-Ia, ialah: Allah Subhanahu wa Ta'ala,

(2) Dirawikan AI•Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah, Menurut 'Aisyah, bahwa sewaktu kepala nabi s.a,w, dalam pangkuannya, maka beliau melihat ke atap rumah, kemudian bersabda: "Allaahummar-rafiiqal-a'laa", Maka aku tahu bahwa beliau tidak memilih kita",

clip_image024Dan kalau dilihat kepada buahnya, maka yaitu: wara' dan taqwa. Dan tiada tersembunyi, apa yang telah datang pada hadits, tentang keutamaan keduanya. Sehingga al-'aqibah (kesudahan yang baik) itu menjadi dinama-kan, dengan: taqwa, yang dikhususkan dengan taqwa itu. Sebagaimana jadinya al-hamdu itu, dikhususkan dengan Allah Ta'ala dan selawat kepada Rasulullah s.a.w. Sehingga dikatakan:-

Artinya: "Segala pujian (al-hamdu) bagi Allah Tuhan semesta alam. Dan akibat kesudahan yang baik (al-'aqibah) bagi orang-orang yang taqwa dan selawat (ash-shalaatu) kepada penghulu kita Muhammad s.a.w. dan ke-pad a keluarganya sekalian".

Allah Ta'ala telah mengkhususkan taqwa dikaitkan kepada diriNYA. IA berfirmanclip_image026

Artinya: "Tidak akan sampai daging dan darahnya itu kepada Allah. Akan tetapi, yang sampai kepadaNYA. ialah: taqwa daripada kamu". S. AI-Hajj, ayat 37.

Sesungguhnya taqwa itu ibarat daripada pencegahan dari perbuatan yang tidak baik. menurut yang dikehendaki oleh takut, sebagaimana telah di-terangkan dahulu. Dan karena itulah, Allah Ta'ala berfirman:-

clip_image028

Artinya: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu pada sisi Allah, ialah yang lebih bertaqwa dari kamu". S. AI-Hujurat, ayat 13.

Dan karena itulah. Allah Ta'ala mewasiatkan (memerintahkan) kepada orang-orang yang dahulu dan orang-orang yaclip_image030ng kemudian, dengan: taqwa. Allah Ta'ala berfirman:-

Artinya: "Dan sesungguhnya telah KAMI wasiatkan (perintahkan) kepada orang-orang yang telah diberi Kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu, supaya kamu bertaqwa kepada Allah". S. An-Nisa', ayat 131. Allah 'Azza wa lalla berfirman

clip_image032

Artinya: "Dan takutilah kepadaKU. kalau kamu betul orang-orang yang beriman". S. Ali 'Imran, ayat 175.

Maka Allah menyuruhkan dengan: takut, mewajibkannya dan mensyaratkannya pada: iman. Maka karena itulah, tiada tergambar, bahwa orang mu'min itu terlepas dari: takut, walaupun lemah. Dan adalah kelemahan takutnya itu menurut kelemahan ma'rifahnya dan imannya.

Rasulullah s.a.w. bersabda tentang keutamaan taqwa: "Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang dahulu dan orang-orang yang kemudian pada suatu tempat di hari yang dima'lumi, maka tiba-tiba mereka mendengar suara, yang dapat memperdengarkan kepada yang paling jauh dari mereka, sebagaimana dapat memperdengarkan kepada yang paling dekat dari mereka. Maka SUARA itu berkata: "Hai manusia! Sesungguhnya AKU telah AKU diam bagimu, semenjak AKU jadikan kamu, sampai kepada harimu ini. Maka diamlah kepadaKU hari ini! Sesungguhnya amal kamu dikembalikan kepada kamu. Hai manusia! Sesungguhnya AKU telah menciptakan bangsa (nasab) dan kamu telah menciptakan bangsa. Maka kamu rendahkan nasabKU dan kamu tinggikan nasabmu. AKU berfirman: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu pada sisi Allah, ialah yang lebih bertaqwa dari kamu". Dan kamu enggan, selain mengatakan: "Anu anak si Anu, Si Anu lebih kaya dari si Anu". Maka pada hari ini, AKU rendahkan nasabmu dan AKU tinggikan nasabKU. Mana orang-orang yang bertaqwa? Maka diangkatkan bendera bagi suatu kaum, lalu kaum (golongan) itu membawa benderanya ke tempatnya. Maka mereka itu masuk sorga, tanpa hisab (perhitungan amal)". (1).

clip_image034Nabi s.a. w. bersabda:-

Artinya: "Puncak hikmah itu takut kepada Allah". (2).

Nabi s.a.w. berkata kepada Ibnu Mas'ud:-

clip_image036

Artinya: "Kalau engkau bermaksud bertemu dengan aku, maka banyak-kanlah takut sesudahku". (3).

(I) Dirawikan Ath-Thabrani dengan sanad dla-'if.

(2) Dirawikan Abubakar bin Lal dan AI-Baihaqi dari Ibnu Mas'ud. hadits dla'if.

(3) Menurut AI-Iraqi. ia tidak menjumpai hadits ini.

AI-Fudlail berkata: "Siapa yang takut akan Allah, niscaya ketakutan itu

menunjukkannya atas setiap kebajikan".

Asy-Syibli r.a. berkata: "Pada suatu hari aku takut akan Allah, lalu aku melihat bagi ketakutan itu suatu pintu dari hikmah dan ibarat, yang tidak pemah sekali-kali aku melihatnya.

Yahya bin Ma'adz berkata: "Seorang mu'min yang mengerjakan kejahat-an itu, akan dihubungi oleh dua kebaikan: takut siksaan dan harap ke-roa'afan, seperti: serigala di antara dua ekor singa".

Tersebut pada ucapan Musa a.s.: "Adapun orang-orang wara': maka sesungguhnya tiada tinggal seorang pun, melainkan aku bertengkar dengan dia tentang hitungan amalnya dan aku periksakan apa yang dalam dua tangannya, selain orang-orang yang wara'. Maka sesungguhnya aku malu kepada mereka. Dan aku muliakan mereka, bahwa aku suruh mereka berhenti untuk hitungan amalnya (hisab)".

Wara' dan taqwa itu nama-nama yang dipetik dari beberapa arti, yang persyaratannya itu: takut. Maka jikalau kosong dari takut, niscaya tidak dinamakan dengan nama-nama tersebut.

Begitu juga apa yang tersehut tentang keutamaan dzikir itu tidak tersem-bunyi. Dan sesungguhnya telah diciptakan oleh Allah akan dzikir itu, di-khususkan kepada orang-orang yang takut.

Allah Ta'ala berfirman:-

clip_image038

Artinya: "Nanti peringatan (dzikir) itu, akan diterima oleh orang yang takut (kepada Allah)". S. AI-A'-Ia, ayat 10.

Allah Ta'ala berfirman:-

clip_image040

Artinya: "Dan siapa yang takut terhadap waktu berdiri di hadapan Tuhan-nya, dia mempunyai dua sorga (taman)". S. Ar-Rahman, ayat 46.

Nabi s.a.w. bersabda: "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Demi kemuliaan-KU! Tiada AKU kumpulkan atas hambaKU dua ketakutan. Dan tiada AKU kumpulkan baginya dua keamanan. Maka jikalau ia merasa aman kepadaKU di dunia, niscaya AKU pertakutkannya pada hari kiamat. Dan jikalau ia takut kepadaKU di dunia, niscaya AKU amankan dia di hari kiamat". (1).

Nabi s.a.w. bersabda: "Siapa yang takut kepada Allah Ta'ala, niscaya tiap sesuatu akan takut kepadanya. Dan siapa yang takut akan selain Allah, niscaya ia dipertakutkan oleh Allah dari setiap sesuatu". (2).

Nabi s.a.w. bersabda: "Yang paling sempuma akal dari kamu, ialah yang sangat takut kepada Allah Ta'ala daripada kamu, yang paling baik pan-dangannya dari kamu, pada apa yang disuruh oleh Allah Ta'ala dan yang dilarangnya". (3).

Yahya bin Ma'adz r.a. berkata: "Kasihan anak Adam! Jikalau ia takut akan neraka, sebagaimana ia takut akan kemiskinan, niscaya ia masuk sorga".

Dzun-Nun La. berkata: "Siapa yang takut ,kepada Allah Ta'ala, niscaya halus hatinya, bersangatan cintanya kepada Allah dan benar akalnya". Dzun-Nun La. berkata pula: "Sayogialah takut itu lebih keras dari harap. Apabila harap yang keras, niscaya kacaulah hati".

Abul-Husain Adl-Dlurair berkata: "Tanda kebahagiaan itu takut kecela-kaan. Karena takut itu kekang di antara Allah Ta'ala dan hambaNYA. Maka jikalau kekang itu terputus, niscaya hamba itu binasa bersama orang-orang yang binasa".

Ditanyakan kepada Yahya bin Ma'adz: "Siapakah di antara makhluk yang paling aman besok?".

Yahya bin Ma'adz menjawab: "Yang paling takut di antara mereka pada hari ini".

Sahl r.a. berkata: "Engkau tidak memperoleh takut, sebelum engkau makan yang halal".

Ditanyakan kepada AI-Hasan: "Hai Abu Sa'id! Apa yang kami perbuat? Kami duduk-duduk dengan golongan-golongan yang mempertakutkan kami, sehingga hampir hati kami terbang".

AI-Hasan menjawab: "Demi Allah! Sesungguhnya jikalau engkau ber-campur-baur dengan golongan-golongan yang mempertakutkan engkau, sehingga engkau memperoleh aman, adalah lebih baik bagi engkau dari-pada engkau berteman dengan golongan-golongan yang memperamankan engkau, sehingga engkau memperoleh ketakutan".

Abu Sulaiman Ad-Darani r.a. berkata: "Tiadalah takut itu bercerai dari hati, melainkan hati itu roboh".

'Aisyah r.a. berkata: "Aku bertanya, wahai Rasulullah:- clip_image042

(Wal-ladziina yu'-tuuna maa-atau, wa quluubuhum wajilatun).

. Artinya: "Dan orang-orang yang memberikan pemberiannya, dengan hati-nya yang takut (kepada Tuhan)". S. AI-Mu'minun, ayat 60, itukah orang yang mencuri dan berzina?"

(I) Dirawikan Ibnu Hibban dan AI-Baihaqi daTi Abu Hurairah.

(2) Dirawikan Abusy-Syaikh. Ibnu Hibban dari Abi Amamah, dengan sanad dla-•if. (3) Kata AI-Iraqi. beliau tidak menjumpai had its ini.

Nabi s.a.w. menjawab:-

clip_image044

Artinya: "Tidak! Akan tetapi, orang yang berpuasa, mengerjakan shalat, bersedekah dan takut bahwa tidak diterima daripadanya". (1).

Pengerasan-pengerasan yang datang dari hadits mengenai keamanan dari cobaan dan azab Allah itu tiada terhingga banyaknya. Dan setiap yang demikian itu adalah pujian kepada takut. Karena celaan akan sesuatu itu adalah pujian akan lawannya, yang menidakkannya. Dan lawan takut itu aman. Sebagaimana lawan harap itu putus asa. Dan sebagaimana ditunjukkan oleh celaan akan putus asa, kepada kelebihan harap, maka seperti demikian juga, celaan akan aman itu menunjukkan kepada kelebihan takut yang berlawanan dengan dia. Bahkan,kami mengatakan, bahwa: setiap apa yang datang dari hadits, tentang kelebihan harap, maka itu menunjukkan atas kelebihan takut. Karena keduanya itu harus-mengharus-kan. Maka sesungguhnya setiap orang yang mengharap akan kekasihnya, maka tak boleh tidak, bahwa ia takut akan hilangnya. Maka jikalau ia tidak takut akan hilangnya, niscaya ia tidak mencintainya. Maka ia tidak mengharap untuk menungguinya.

Maka takut dan harap itu harus mengharuskan. Mustahil terlepas salah satu daripada keduanya dari lainnya. Ya, boleh bahwa yang satu dari keduanya itu mengalahkan yang lain. Dan keduanya itu berkumpul. Dan boleh bahwa hati sibuk dengan salah satu dari keduanya. Dan hati itu tidak menoleh kepada yang lain seketika. Karena kelengahannya dari-padanya. Dan ini, karena di antara persyaratan harap dan takut itu, me-nyangkut keduanya, dengan apa yang diragukan padanya. Karena yang diketahui itu tidak diharapkan dan tidak ditakutkan.

Jadi, yang dicintai - sudah pasti - yang boleh adanya itu, boleh tiadanya. Maka mentakdirkan adanya itu menyenangkan akan hati Dan itulah: harap. Dan mentakdirkan tiadanya itu menyakitkan hatL Dan itulah: takut. Dua pentakdiran yang berlawanan - sudah pasti - apabila keadaan yang ditunggukan itu diragukan. Ya, salah satu dari dua tepi keraguan itu kadang-kadang lebih kuat dari lainnya, dengan adanya sebahagian sebab-sebab. Dan yang demikian itu, dinamakan: sangkaan (dhann). Maka adalah yang demikian itu sebab menangnya yang satu dari keduanya atas lainnya. Maka apabila telah keras sangkaan akan adanya yang dicintai, niscaya kuatlah harap dan tersembunyilah takut, dengan dikaitkan kepadanya. Dan begitu pula sebaliknya. Dan di atas setiap keadaan, maka keduanya itu harus-mengharuskan.

(1) Dirawikan At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan AI-Hakim dan katanya: shahih isnad.

Dan karena itulah Allah Ta'ala berfirman:- clip_image046

Artinya: "Dan mereka berdo'a kepada KAMI dengan pengharapan dan perasaan takut". S. Al-Anbiya', ayat 90.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:- clip_image048

Artinya: "Mereka berdo'a kepada Tuhannya dengan perasaan yang penuh ketakutan dan pengharapan". S. As-Sajadah, ayat 16.

Dan karena itulah, orang Arab meng-ibaratkan dengan takut itu: harap.

Allah Ta'ala berfirman:- clip_image050

Artinya: "Mengapa kamu tidak mengharapkan kebesaran Allah?", artinya: kamu tidak takut. S. Nuh, ayat 13.

Dan kebanyakan apa yang terse but dalam AI-Qur-an, bahwa harap itu, dengan arti: takut. Dan yang demikian, karena antara keduanya harus-mengharuskan. Karena kebiasaan orang Arab itu mengibaratkan dari sesuatu, dengan apa yang ada harus-mengharuskan daripadanya.

Bahkan, aku mengatakan, bahwa setiap apa yang datang dalam hadits, tentang keutamaan menangis dari karena ketakutan kepada Allah, maka itu menglahirkan bagi keutamaan takut. Maka sesungguhnya tangis itu buah. ketakutan.

Allah Ta'ala berfirman:clip_image052

Artinya: "Maka hendaklah mereka itu tertawa sedikit dan hendaklah me-nangis banyak!". S. At-Taubah, ayat 82.

Dan Allah Berfirman:clip_image054

Artinya: "Mereka itu menangis dan AI-Qur-an itu menambahkan ke-khusyu-an hati mereka". S. AI-Isra', ayat 109.

Allah 'Azza wa Jalla, berfirman:-

clip_image056

Artinya: "Apakah kamu merasa heran terhadap bacaan ini? Dan kamu akan tertawa dan tiada menangis? Dan kamu tiada memperhatikannya?". S. An-Najm, ayat 59 - 60 - 61.

Nabi s.a.w. bersabda:-

clip_image058

Artinya: ''Tiadalah dari hamba yang beriman, yang keluar dari dua mata-nya akan air mata, walau pun seperti kepala lalar, dari karena takut ke-pada Allah Ta'ala, kemudian air mata itu mengenai sesuatu dari panas mukanya, selain ia diharamkan oleh Allah dari api neraka". (1).

Nabi s.a.w. bersabda:-

clip_image060

Artinya: "Apabila gementar hati orang mu'min dari karena takut kepada Allah, niscaya berguguran daripadanya dosanya, sebagaimana berguguran dari pohon kayu daunnya".(2).

clip_image062Nabi s.a.w. bersabda:

(Laa yalijun-naara ahadun bakaa min khasy-yatil-Iaahi ta-'aalaa, hattaa ya-'uudal-Iabanu fidl-dlar-'i),

Artinya: 'Tiada akan masu\i. neraka, seseorang yang menangis dari karena takut kepada Allah Ta'ala, schingga kembalilah air susu dalam tempatnya semula". (3).

(1) Dirawikan Ath-Thabrani dan AI-Baihaqi dari Ibnu Mas'ud. sanad dha'if.

(2) Dirawikan Ath-Thabrani dan AI-Baihaqi dari AI-Abbas, sanad dha’if.

(3) Dirawikari At-TirmidzI, An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.

Uqbah bin 'Amir hertanya: "Apa itu kelepasan. ya Rasulullah?".

Nabi s.a.w. menjawab: 'Tahanlah Iidahmu atas dirimu! Dan hendaklah melapangkan akan kamu oleh rumahmu! Dan menangislah atas kesalahan-mu!". (2).

'Aisyah r.a. berkata: "Aku hertanya: ya Rasulullah! Adakah seseorang dari ummatmu itu masuk sorga tanpa hisab (perhitungan amal)?".

Nabi s.a.w. menjawah: "Ada. yaitu: SIapa yang mengingati akan dosanya, lalu ia menangis". (3).

Nabi s.a.w. bersabda: "Tiada satu tetes pun yang Iebih disukai oleh Allah Ta'ala. daripada setetes air mata dari karena takut kepada Allah Ta 'ala atau setetes darah yang ditumpahkan pada sabilillah Subhanahu wa Ta’ala". (4).

Nabi s.a,w. berdo'a:- clip_image064

Artinya: "Wahai Allah Tuhanku! Anugerahkanlah aku dua mat a yang bercucuran airnya. yang menyembuhkan hati, dengan mengalirnya air mata, sebelum air mata itu menjadi darah dan gigi gerham itu menjadi bara-api", (5).

Nabi s.a.w bersabda:- clip_image066

Artinya: "Tujuh macam manusia akan dilindungi oleh Allah pada hari yang tiada Iindungan selain IindunganNYA", (6).

Lalu Rasulullah s.a,w. menyebutkan dari mereka itu seorang laki-laki yang mengingati (berdzikir) kepada Allah pada tempat yang sunyi. Lalu bercucuranlah kedua matanya dengan air mata.

Abu bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata: "Barangsiapa sanggup menangis maka hendaklah ia menangis! Dan barang siapa yang tiada sanggup, maka hendaklah ia membuat-buat menangis!".

(2) Dirawikan Ibnu Abid-Dun'ya, At-Tirmidzi dan dipandangnya hadits baik.

(3) Menurut AI-Iraqi, bahwa ia tidak menjumpai hadits ini.

(4) Dirawikan At-Tirmidzi dan Abi Amamah dan katanya: hadits hasan gharib.

(5) Dirawikan Ath-Thabrani dan Abu Na-'im dari Ibnu Umar, isnad hasan.

(6) Dirawikan AI-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah: Hadits ini sudah diterangkan dahulu beberapa kali,

Adalah Muhammad bin AI-Munkadir r.a. apabila ia menangis, niscaya ia menyapu mukanya dan janggutnya dengan air-matanya. Dan mengatakan:

"Sampai kepadaku berita, bahwa neraka tidak akan memakan tempat, yang disentuh oleh air-mata".

Abdullah bin 'Amr bin AI-'Ash La. berkata: "Menangislah! Maka jikalau engkau tidak menangis, maka buat-buatlah menangis itu! Maka demi Allah yang nyawaku di TanganNYA, jikalau tahulah seseorang kamu dengan sebenar-benamya tahu, niscaya ia memekik, sehingga habis suaranya. Dan ia mengerjakan shalat, sehingga pecah tulang pinggangnya".

Abu Sulaiman Ad-Darani r.a. berkata: "Tiadalah pulang-pergi mata itu dengan airnya, melainkan tiada akan menganiaya muka yang punya mata itu, oleh kesempitan dan kehinaan, pad a hari kiamat. Maka jikalau meng-alir air matanya, niscaya dipadamkan oleh Allah dengan tetesan yang per-tama daripadanya, akan uap dari api neraka. Dan jikalau seorang Iaki-Iaki menangis pada suatu ummat, niscaya tiada akan diazabkan umat itu". Abu Sulaiman berkata: "Menangis itu dari takut., Harap dan sukacita itu dari kerinduan".

Ka'bul-Ahbar r.a. berkata: "Demi Allah yang nyawaku di TanganNYA! Aku menangis dari karena takut kepada Allah, sehingga mengalirnya air mataku, atas pipiku, adalah Iebih aku sukai, daripada aku bersedekah dengan sebuah bukit dari emas".

Abdullah bin Umar La. berkata: "Bahwa aku mengeluarkan air mata, dari karena takut kepada Allah adalah Iebih aku sukai, daripada aku bersedekah dengan seribu dinar".

Diriwayatkan dari Handhalah, yang mengatakan: "Adalah kami di sisi Rasulullah s.a. w. Lalu beliau memberi pengajaran kepada kami, dengan pengajaran yang menghaluskan hati, mencurahkan air mata dan memperkenalkan akan kami diri kami. Lalu, aku kembali kepada keluargaku. Maka mendekatilah kepadaku seorang wanita. Dan berlakulah di antara kami pembicaraan dunia. Maka aku lupa, apa yang kami berada padanya, di sisi Rasulullah s.a.w. Dan kami masuk dalam urusan duniawi. Kemudi-an, aku teringat apa yang kami berada padanya.

Maka aku mengatakan pada diriku: "Aku telah menjadi munafik, di mana menyeleweng daripadaku, apa yang aku berada padanya, dari ketakutan dan kehalusan hati. Maka aku keluar, Ialu aku serukan: Telah menjadi munafik Handhalahl Lalu Abubakar Ash-Shiddiq berhadapan dengan aku, maka beliau menga-takan: "Tidak! Tidaklah Handhalah itu munafik!".

Maka aku masuk ke tempat Rasulullah s.a.w. dan aku mengatakan: Telah menjadi munafik Handhalah. Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: "Tidak! Tidaklah Handhalah itu munafik". Maka aku menjawab: "Ya Rasulullah! Kami berada di sisi engkau. Lalu engkau memberi pengajaran kepada kami, suatu pengajaran yang menakutkan hati, mencucurkan air mata dan kami mengenal akan diri kami. Lalu aku kembali kepada keluargaku. Maka aku masuk membicarakan hal dunia. Dan aku lupa, apa yang ada kami padanya, di sisi engkau".

Maka Nabi s.a.w. menjawab: "Hai Handhalah! Jikalau adalah kamu selalu di atas keadaan yang demikian, niscaya akan berpegang tangan dengan kamu, para malaikat di jalan-jalan dan di atas tempat tidurmu. Akan te-tapi, hai Handhalah, se sa'at dan sesa'at". (1).

Jadi, setiap apa yang telah datang pada hadits, tentang kelebihan harap dan menangis, kelebihan taqwa dan wara', kelebihan ilmu dan celaan aman, maka itu menunjukkan kepada kelebihan takut. Karena sejumlah yang demikian itu menyangkut dengan takut. Adakalanya sangkutan sebab, atau sangkutan musabbab (akibat dari sebab).

kerasnya ketakutan atau kerasnya harapan atau keduanya sedang.

Ketahuilah kiranya, bahwa hadits-hadits tentang kelebihan takut dan harap itu sungguh banyak. Kadang-kadang yang memperhatikan, memandang kepada keduanya. lalu diliputi oleh keraguan, tentang yang mana yang lebih utama daripada keduanya. Kata yang mengatakan, takutkah yang lebih utama atau harap, itu pertanyaan yang tidak betul. Menyerupai dengan kata yang mengatakan: Rotikah yang lebih utama atau air. Jawabnya, bahwa dikatakan: Roti lebih utama bagi orang yang lapar. Dan air lebih utama bagi orang yang haus. Kalau keduanya berkumpul, niscaya dilihat kepada yang lebih keras. Maka jikalau lapar yang lebih keras, maka roti yang lebih utama. Dan jikalau haus yang lebih keras, maka air yang lebih utama. Dan kalau keduanya sarna, maka keduanya pun sarna. Dan ini, karena setiap apa yang dimaksudkan bagi sesuatu maksud, maka kelebihannya itu jelas, dengan dikaitkan kepada maksudnya. Tidak kepada dirinya.

Takut dan harap itu dua macam obat, yang dengan kedua-nya itu, diobati hati. Maka kelebihan keduanya itu menurut penyakit yang ada. Jikalau yang keras atas hati itu penyakit aman dari siksaan Allah Ta'ala dan tertipu diri, maka takutlah yang lebih utama. Dan jikalau yang lebih keras, ialah putus asa dan hilang harapan dari rahmat Allah, maka haraplah yang lebih utama. Dan seperti yang demikian, jikalau adalah yang keras atas hamba itu kemaksiatan, maka takutlah yang lebih utama. Dan bolehlah dikatakan secara mutlak, bahwa takut itu yang lebih utama, atas penta'wilan yang dikatakan padanya: bahwa roti itu lebih utama dari sakanjabin. Karena diobati dengan roti itu penyakit lapar. Dan diobati dengan sakanjiban, penyakit kuning. Dan penyakit lapar itu lebih keras dan lebih banyak. Maka keperluan kepada roti itu lebih banyak. Maka rotilah yang lebih utama.

Maka dengan ibarat ini, kekerasan takut itu lebih utama. Karena perbuatan maksiat dan tertipu diri di atas manusia itu, lebih keras.

Dan jikalau ditilik kepada tempat terbitnya takut dan harap, maka harap itu lebih utama. Karena, ia mendapat siraman dari lautan rahmat. Dan siraman takut itu dari lautan marah. Dan siapa yang memperhatikan dari sifat-sifat Allah Ta'ala, akan apa yang menghendaki kasih sayang dan rahmat, niscaya kasih-sayang ke atas dirinya adalah lebih keras. Dan tiadalah di sebalik kasih sayang itu tingkat.

Adapun takut, maka tempat sandarannya, ialah menoleh kepada sifat-sifat yang menghendaki kekerasan. Maka ia tidak dicampuri oleh kasih sayang, sebagaimana turut-campurnya bagi harap.

Kesimpulannya, maka apa yang dikehendaki bagi yang lain, sayogialah bahwa dipakaikan padanya, perkataan "lebih patut". Tidak perkataan "lebih utama". Maka kami katakan, bahwa kebanyakan manusia, takut bagi mereka, lebih patut dari harap. Dan yang demikian itu, karena banyaknya perbuatan-perbuatan maksiat.

Adapun orang yang taqwa yang meninggalkan dosa zahir dan batinnya. dosa yang tersembunyi dan terangnya, maka yang lebih benar, bahwa sedanglah takutnya dan harapnya. Dan karena demikianlah, dikatakan: "Jikalau ditimbang ketakutan orang mu'min dan harapannya, niscaya keduanya seimbang. Dan diriwayatkan, bahwa Ali r.a. mengatakan kepada sebahagian anaknya: "Hai anakku! Takutlah akan Allah, dengan takut, bahwa engkau melihat, jikalau engkau bawa kepada Allah segala kebaikan penduduk bumi, niscaya tidak diterimaNYA dari engkau. Dan haraplah kepada Allah, dengan harapan yang engkau lihat, bahwa jikalau engkau bawa kepada Allah, segala kejahatan penduduk bumi, niscaya diampunkanNYA akan engkau".

Dan karena itulah, Umar r.a. berkata: "Jikalau diserukan untuk masuk neraka, semua manusia selain seorang laki-laki, niscaya aku mengharap, bahwa akulah laki-Iaki itu. Dan jikalau diserukan untuk masuk syurga semua manusia, selain seorang laki-laki, niscaya aku takut, bahwa akulah laki-laki itu".

Dan ini adalah ibarat dari bersangatan takut dan harap dan kesedangan keduanya serta kebanyakan dan kekerasan. Akan tetapi, di atas jalan ber-lawanan dan bersamaan. Maka seperti Umar r.a. sayogialah bahwa ber-samaan takutnya dan harapnya.

Adapun orang yang berbuat maksiat, apabila ia menyangka, bahwa dia itu laki-laki yang dikecualikan dari orang-orang yang disuruh masuk neraka, niscaya adalah yang demikian itu dalil atas ketipuannya.

Jikalau anda mengatakan, bahwa seperti Umar r.a. itu, tiada sayogialah bahwa bersamaan takutnya dan harapnya. Akan tetapi, sayogialah bahwa keras harapannya, sebagaimana telah terdahulu, pada awal "Kitab Harap". Dan kekuatannya, sayogialah bahwa ada, menurut kekuatan sebab-sebabnya. Sebagaimana dicontohkan, dengan tanam-tanaman dan bibit. Dan dimaklumi, bahwa orang yang menaburkan bibit yang sehat pada bumi yang bersih dan ia rajin mengusahakannya dan ia penuhi semua persyaratan bercocok tanam, niscaya mengeraslah pada hatinya, akan harapan memperoleh hasilnya. Dan tidaklah takutnya itu bersamaan bagi harapnya. Maka begitulah sayogianya bahwa adalah yang demikian itu hal-keadaan orang-orang yang taqwa (al-muttaqin).

Maka ketahuilah, bahwa siapa yang mengambil ilmu-pengetahuan dari kata-kata dan contoh-contoh, niscaya banyaklah tergelincirnya. Dan yang demikian itu, walau pun kami telah mengemukakan contoh, maka tidaklah itu menyerupai dari setiap segi, dengan apa yang sedang kami bicarakan. Karena sebab kerasnya harapan itu adalah ilmu yang diperoleh dengan percobaan (pengalaman). Karena ia tahu dengan pengalaman itu. sehatnya bumi dan bersihnya, sehatnya bibit dan sehatnya udara. Dan sedikitnya halilintar yang membinasakan pada tempat-tempat itu dan lainnya.

Sesungguhnya contoh permasalahan kita adalah bibit yang belum dicoba yang sejenisnya. Dan telah ditaburkan pada bumi yang ganjil, yang belum diketahui oleh penanam dan belum dicobainya. Dan tanah itu pada negeri. yang tidak diketahui, adakah banyak halilintar padanya atau tidak. Maka contoh penanam ini, walau pun ia laksanakan dengan sehabis tenaganya dan didatangkannya dengan setiap kemampuannya, maka tidaklah harapannya itu dapat mengalahkan ketakutannya. Dan bibit pada permasalahan kita ialah: iman. Dan syarat-syarat sahnya iman itu halus. Dan bumi itu hati. Dan yang tersembunyi dari kekejian dan kebersihannya itu dari syirik yang tersembunyi, nifaq (kemunafikan) dan ria. Dan kesembunyian budi-pekerti padanya itu kabul dan bahaya-bahayanya, ialah: nafsu-syahwat, keelokan-keelokan dunia dan berpalingnya hati kepadanya pada masa mendatang. Walau pun ia selamat sekarang. Dan yang demikian itu, tidak dapat dibuktikan dan tidak dapat diketahui dengan pengalaman. Karena kadang-kadang datang dari sebab-sebab, akan apa yang tidak disanggupi melawannya. Dan tidak pernah dicobakan (dialami) yang seperti demikian.

Dan halilintar-halilintar itu, ialah: huru-hara sakaratul-maut dan bergoncangnya i'tikad (keimanan) padanya. Dan yang demikian, adalah dari apa yang tidak pernah dicobakan yang seperti yang demikian. Kemudian, mengetam  dan mengetahui ketika berpindah dari kiamat ke syurga. Dan yang  demikian  itu belum pernah dicoba (dialami).

Maka siapa yang mengetahui akan hakikat urusan ini, jikalau ia lemah hati, penakut pada dirinya, niscaya - sudah pasti - ketakutannya mengalahkan akan harapannya. Sebagaimana akan diceriterakan tentang keadaan orang-orang yang takut, dari para shahabat dan tabi'in. Dan jikalau ia kuat hati, tetap hati dan sempurna ma'rifah, niscaya samalah takutnya dan harapnya. Adapun bahwa harapnya mengalahkan takutnya, maka tidaklah demikian.

Sesungguhnya adalah Umar r.a. bersangatan menyelidiki hatinya. Sehingga ia bertanya kepada Hudzaifah r.a.: adakah Hudhaifah mengetahui pada Umar, sesuatu daripada bekas-bekas kemunafikan. Karena Hudzaifah itu telah dikhususkan oleh Rasulullah s.a.w. dengan mengetahui orang-orang yang munafik. (I) Dirawikan Muslim dari Hudzaifah. bahwa Nabi s.a.w. bersabda: "Dalam kalangan shahabatku. ada dua belas orang munafik. yang tidak akan masuk syurga. sehingga masuklah unta dalam lobang penjahit (jarum)".

Maka siapakah yang sanggup mengatakan sucinya hati seseorang, daripada kesembunyian nifaq dan syirik yang tersembunyi? Dan jikalau seseorang meyakini akan bersih hatinya dari yang demikian, maka dari mana, ia dapat merasa aman akan taqdir tidak baik daripada Allah Ta'ala, dengan penyerupaan halnya atas demikian dan penyembunyian kekurangannya dari yang demikian? Dan jikalau ia mempercayai dengan yang demikian, maka dari mana ia dapat mempercayai dengan ketetapannya di atas yang demikian, sampai kepada kesempurnaan baiknya al-khatimah?

Nabi s.a.w. bersabda:-

clip_image068

Artinya: "Sesungguhnya ada orang yang berbuat, sebagai perbuatan isi syurga, selama lima puluh tahun. Sehingga, tidak ada lagi, di antaranya dan syurga, selain sejauh se jengkal - pada suatu riwayat - ,selain sekadar masa berhenti di antara dua kali perahan susu unta (untuk menunggu banyaknya susu). Maka terdahululah kepada orang itu, oleh suratan amal. Lalu dicapkan (disetempelkan) baginya, dengan amal-perbuatan isi neraka".  ( Dirawikan Muslim dari Abu Hurairah. )

Dan kadar masa berhenti di antara dua kali perahan susu unta itu, tidak mungkin adanya amal perbuatan dengan anggota-anggota badan. Dan itu adalah sekadar gurisan yang masuk dalam hati ketika menghadapi mati. Lalu itu menghendaki buruk kesudahan (su-ul-khatimah). Maka bagaimana ia merasa aman yang demikian?

Jadi, yang paling jauh tujuan orang mu'min, ialah, bahwa sedanglah takut dan harapnya. Dan kerasnya harap pada kebanyakan manusia itu, adalah bersandar bagi ketipuan diri dan sedikitnya ma'rifah. Dan karena demikianlah, Allah Ta'ala mengumpulkan di antara harap dan takut itu pada sifat orang yang dipujiNYA. IA berfirman:-

clip_image070

Artinya: "Mereka berdo'a kepada Tuhannya, dengan perasaan yang penuh ketakutan dan pengharapan". S .. As-Sajadah. ayat 16.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:-

clip_image072

Artinya: "Dan mereka berdo'a kepada KAMI dengan pengharapan dan perasaan takut". S. AI-Anbiya', ayat 90.

Dan manakah contoh Umar r.a. itu?

Maka manusia yang berada pada masa ini semuanya, lebih patut bagi mereka itu kekerasan takut. Dengan syarat. bahwa tidak membawa mereka kepada putus asa, meninggalkan pekerjaan dan putus harapan dari ampunan Allah (al-magh-firah). Maka adalah yang demikian itu. menjadi sebab untuk bermalas-malasan bekerja. Dan membawa kepada terjerumus dalam perbuatan maksiat. Maka yang demikian itu putus asa, bukan takul Sesungguhnya takut, ialah: yang menggerakkan kepada bekerja. mengeruhkan semua nafsu-syahwat, mengejutkan hati dari kecenderungan kepada dunia dan membawanya kepada berjalan. dengan menjauhkan diri dari negeri terpedaya (dunia). Maka itulah takut yang terpuji. Tidaklah bisikan hati yang tidak membekas pada pencegahan dari perbuatan huruk dan penggerakan kepada  amal tha'at. Dan tidaklah keputus-asaan yang mengharuskan kepada patahnya hati.

Yahya bin Ma'adz berkata: "Siapa yang menyembah (beribadah) kepada Allah Ta'ala dengan semata-mata takut, niscaya ia tenggelam dalam lautan fikir. Dan siapa yang menyembahNYA dengan semata-mata harap. niscaya ia berjalan dalam padang pasir ketipuan. Dan siapa yang menyembahNYA dengan takut dan harap, niscaya ia berjalan lurus pada tempat beralasannya dzikir".

Makhul Ad-Dimasyqi berkata: "Siapa yang menyembah (beribadah) kepada Allah, dengan takut, maka dia itu orang merdeka. Siapa yang menyembah Allah dengan harapan, maka dia itu orang yang mengharap . . Siapa yang menyembah Allah dengan cinta-kasih, maka dia itu orang zindiq. Dan siapa yang menyembah Allah dengan takut, harap dan cinta-kasih, maka dia itu orang bertauhid (meng-esakan Tuhan)".

-Jadi, tak boleh tidak, daripada mengumpulkan di antara hal-hal tersebut.

Dan kerasnya takut, itulah yang lebih patut. Akan tetapi, sebelum mendekati kepada mati. Ada pun ketika akan mati, maka yang lebih patut. ialah: kerasnya harapan dan baiknya sangka. Karena takut itu berlaku. sebagai berlakunya cemeti yang membangkitkan kepada bekerja. Dan telah lewat waktu bekerja itu. Maka orang yang hampir akan mati. tidaklah sanggup bekerja. Kemudian, ia tidak sanggup akan sebab-sebab ketakutan. Maka yang demikian itu, memutuskan gantungan hatinya. Dan menolong kepada kesegeraan matinya. Ada pun semangat harapan. maka sesungguhnya menguatkan hatinya dan mencintakan dia akan Tuhannya. yang kepadaNYA-lah harapannya.

Tag Technorati: {grup-tag},,

diooda